LAMPUNG — Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, menegaskan tidak ada gangguan terhadap aktivitas siswa pascatembuan senjata tersebut. "Semua berjalan dengan baik. Kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik, tidak terjadi gangguan apa pun di sekolah," ujarnya di lokasi, Jumat (7/8).
Proses pembongkaran ruangan penyimpanan senjata dilakukan pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 17.00 WIB, setelah para siswa menyelesaikan jam pelajaran. "Sehingga tidak ada gangguan apa pun terhadap anak-anak di dalam proses belajar mengajar," kata Hermawanto.
Kronologi Penemuan dan Klaim Kepemilikan
Pihak sekolah mengaku tidak mengetahui keberadaan ratusan senjata tersebut. Ruangan yang menjadi lokasi penyimpanan sebelumnya dikuasai oleh pengurus lama yayasan yang telah diberhentikan. "Bagaimana caranya masuk, bagaimana yang siapa yang bertanggung jawab, kami juga tidak tahu. Karena yang mengelola itu dahulu adalah pengurus lama yang sudah kami berhentikan, sudah kami pecat," jelas Hermawanto.
Dari hasil pendataan, senjata yang ditemukan terdiri dari empat laras panjang, dua laras pendek, peredam, tujuh magasin berbagai jenis, amunisi berbagai kaliber, serta sejumlah airsoft gun berbentuk FN P90, AK-47, dan M4 Carbine. Polisi juga menemukan taser gun, alat pembuat peluru, dan buku panduan pembuatan peluru.
Klaim berbeda datang dari Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin, Alhadid Endar Putra, yang mengaku sebagai pemilik senjata. Ia menyatakan seluruh temuan tersebut legal dan memiliki izin resmi. "Intinya semua ada izinnya, yang temuan 995 itu semua ada izinnya," kata Alhadid saat dihubungi.
Menurut Alhadid, ratusan airsoft gun itu telah disimpan di lokasi sejak 2020 dan diperuntukkan bagi kegiatan ekstrakurikuler menembak di sekolah tersebut. "Airsoft gun, 995 ya. Semua ada izinnya kok gitu," sambungnya.
Bunker Kedua Masih Misteri
Meski kegiatan sekolah dinyatakan aman, Hermawanto mengungkapkan masih ada sebuah bunker yang berada tidak jauh dari ruangan penemuan senjata dan belum dibuka. Pihak sekolah meminta aparat kepolisian segera melakukan pembongkaran untuk memastikan tidak ada lagi temuan lain.
"Jadi sampai hari ini memang belum dibuka. Posisi bunker memang jauh tidak terlalu jauhlah, masih dalam satu lokasi, tapi tidak dekat dengan ruangan kelas," ujarnya.
Kekhawatiran sekolah beralasan mengingat temuan awal yang masif. "Tentu bukan kewenangan kami kan sebenarnya untuk membuka, karena sudah ada pelaporan kami atas dugaan penyalahgunaan senjata. Kami khawatir di ruangan itu juga ada senjata," kata Hermawanto menambahkan.
Hingga berita ini diturunkan, kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait rencana pembukaan bunker tersebut maupun status penyelidikan dugaan penyalahgunaan senjata di lingkungan sekolah.