LAMPUNG — Sebanyak 52 bangsal bersalin di Amerika Serikat resmi ditutup sejak undang-undang federal HR 1 diumumkan pada Juli 2025. Pemangkasan dana Medicaid membuat layanan persalinan kian sulit diakses, terutama di wilayah pedesaan. Berikut fakta dan dampaknya bagi ibu hamil.
Angka kematian ibu di Amerika Serikat tercatat 17,9 per 100.000 kelahiran hidup, salah satu yang tertinggi di antara negara berpenghasilan tinggi. Kondisi itu kini bertambah berat setelah puluhan unit persalinan menghentikan operasionalnya.
Analisis organisasi nirlaba Protect Our Care menemukan 52 bangsal bersalin telah tutup sejak undang-undang federal HR 1 diumumkan pada Juli 2025. Delapan bangsal lain sudah mengumumkan penutupan dalam waktu dekat. Undang-undang itu memangkas pendanaan Medicaid, program asuransi kesehatan bersubsidi yang menopang sekitar 40 persen persalinan di AS.
Aturan tersebut akan sepenuhnya berlaku tahun depan. Para ahli memperkirakan gelombang penutupan unit persalinan akan bertambah menjelang dan sesudah perubahan program Medicaid berjalan.
Mengapa Rumah Sakit Menutup Unit Persalinan
Persalinan punya struktur biaya yang tidak biasa. Rumah sakit wajib siaga 24 jam meski hanya sedikit bayi lahir pada hari tertentu, lengkap dengan staf, peralatan klinis, dan kesiapan menghadapi kegawatdaruratan.
Biaya tetap itu tidak menyusut mengikuti jumlah kelahiran. Ketika volume persalinan menurun, unit sulit menutup biaya operasional. Kekurangan staf membuat layanan 24 jam makin mahal, sementara penggantian biaya dari asuransi rendah.
Administrator rumah sakit akhirnya dihadapkan pada pilihan sulit: mensubsidi layanan persalinan atau mendanai perawatan darurat, rawat inap, dan departemen lain yang juga butuh biaya.
Dampak bagi Ibu Hamil di Wilayah Pedesaan
Direktur senior penasihat legislatif March of Dimes, Erin Jones, menyatakan kekhawatirannya atas kebijakan tersebut. "Kami sangat prihatin bahwa perubahan-perubahan ini telah dan akan terus memperburuk krisis perawatan persalinan yang sudah serius," katanya.
Jones menambahkan pengurangan pendanaan dan pembatasan pembiayaan Medicaid memberi tekanan tambahan pada anggaran negara bagian dan rumah sakit. Risikonya, masyarakat kehilangan layanan persalinan penting, terutama penyedia layanan khusus di dekat rumah.
Komunitas pedesaan menjadi kelompok paling rentan. "Hilangnya layanan-layanan ini berarti berkurangnya tempat untuk melahirkan dengan aman dan berkurangnya pilihan bagi kehamilan yang membutuhkan perawatan khusus," ujar Jones.
Beban Baru bagi Rumah Sakit Penerima
Penutupan unit persalinan tidak menghapus kebutuhan melahirkan, hanya memindahkannya. Rumah sakit tetangga bisa menerima lonjakan pasien tanpa tambahan ruang bersalin, tempat tidur pascapersalinan, atau staf.
Jika kapasitas sudah hampir penuh, tambahan volume itu membebani seluruh layanan. Pasien yang tiba dalam kondisi akan melahirkan di rumah sakit tanpa unit kebidanan tetap butuh penilaian dan stabilisasi sebelum dirujuk. Instalasi gawat darurat bukan pengganti layanan persalinan.
Profesor ekonomi perawatan kesehatan Harvard TH Chan School of Public Health, Benjamin Sommers, menilai undang-undang ini tidak melindungi ibu hamil maupun orang tua berpenghasilan rendah. "Justru undang-undang ini menambah beban keuangan bagi penyedia layanan kesehatan dan program asuransi yang mereka andalkan," katanya.
Yang Bisa Dipelajari Ibu di Indonesia
Kasus ini menunjukkan betapa rapuhnya layanan persalinan ketika pembiayaan kesehatan berubah. Akses ke fasilitas bersalin yang siap 24 jam tetap menjadi fondasi keselamatan ibu dan bayi.
Bagi ibu hamil di Indonesia, memastikan tempat persalinan sejak awal kehamilan jadi langkah bijak. Tanyakan kesiapan layanan gawat darurat, ketersediaan dokter jaga, dan jalur rujukan di fasilitas yang dipilih.
Diskusikan pula dengan bidan atau dokter kandungan soal rencana persalinan, termasuk alternatif fasilitas jika kondisi darurat muncul di luar perkiraan.