BANDARLAMPUNG — Ketua DPRD Lampung Barat Edi Novial mengaku terkesan setelah melihat langsung operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi di kawasan hutan lindung Gunung Salak. Ia menilai praktik di sana membuktikan bahwa eksploitasi energi geothermal tidak otomatis merusak ekosistem.
"Kami tidak melihat adanya kerusakan hutan, justru tutupan hutannya tetap terjaga dengan baik," kata Edi dalam keterangan yang dikonfirmasi di Bandarlampung, Sabtu.
Potensi Panas Bumi di Lampung Barat
Daerah di pesisir barat Sumatera ini menyimpan cadangan panas bumi yang dinilai cukup besar. Namun, selama ini pengembangannya masih terkendala minimnya referensi teknis dan tata kelola yang berkelanjutan. Edi mengatakan kunjungan ke Jawa Barat menjadi bekal bagi DPRD untuk merumuskan rekomendasi kebijakan ke depan.
"Pengembangan panas bumi harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, pusat, dan masyarakat menjadi kunci," ujarnya.
Apa yang Dipelajari dari Star Energy Salak?
Rombongan Komisi II DPRD Lambar mendapat pemaparan langsung dari Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) Gunung Salak, Irwan Januar. Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan reservoir, standar keselamatan kerja, pengendalian dampak lingkungan, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyentuh warga sekitar.
Salah satu aspek yang disorot adalah sistem injeksi kembali fluida panas bumi ke dalam reservoir. Metode ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus mempertahankan produktivitas lapangan dalam jangka panjang.
"Keberhasilan pengembangan panas bumi tidak hanya diukur dari energi yang dihasilkan, tetapi juga dari komitmen menjaga keseimbangan antara penyediaan energi bersih, pelestarian lingkungan, dan manfaat bagi masyarakat," kata Irwan.
Pelajaran untuk Tata Kelola Energi Daerah
Edi menambahkan, hasil studi banding ini akan dibahas lebih lanjut di internal DPRD bersama pemkab. Ia berharap Lampung Barat bisa mengadopsi model pengelolaan serupa jika investor mulai masuk ke wilayah tersebut.
Star Energy sendiri berharap pengalaman yang dibagikan dapat memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan energi panas bumi yang berkelanjutan di Indonesia.