LAMPUNG BARAT — Alur tata niaga kopi robusta di Lampung Barat masih meminggirkan nasib pekebun lokal. Rantai distribusi yang panjang—mulai dari petani kecil, tengkulak desa, distributor kabupaten, hingga eksportir besar di Bandarlampung—menyebabkan posisi tawar petani sangat rendah.
"Posisi tawar pekebun sangat rendah karena sekadar bertindak sebagai penyedia bahan baku penolong," ungkap Mahendra Utama, Minggu, 19 Juli 2026.
Mengapa Petani Hanya Jadi Pemasok Bahan Mentah?
Mahendra menjelaskan, fenomena ini sejalan dengan Teori Rantai Nilai Global rumusan Gary Gereffi. Keuntungan finansial raksasa tersedot mutlak oleh industri hilir yang menguasai teknologi pemanggangan (roasting), pengemasan, hingga jaringan distribusi ritel skala internasional. Sementara itu, pekebun di hulu hanya menerima margin paling tipis.
Langkah hilirisasi di tingkat tapak selalu berbenturan dengan empat kendala struktural. Salah satu yang paling krusial adalah kebiasaan pascapanen.
Metode Penjemuran Tradisional Jadi Akar Masalah Kualitas
"Mayoritas petani masih mempertahankan metode penjemuran tradisional beralas tanah, sehingga standar mutu serta tingkat kebersihan biji kopi sangat sulit mencapai titik keseragaman," papar Mahendra. Inkonsistensi kualitas bahan baku ini membuat produk olahan lokal sulit bersaing dengan merek pabrikan besar yang menjamin konsistensi rasa.
Kendala lain mencakup keterbatasan modal dan minimnya kapasitas manajerial lembaga petani. Koperasi desa belum memiliki daya tawar memadai untuk menembus pembiayaan perbankan demi pengadaan mesin sangrai modern. Persoalan bertambah pelik akibat lambannya peremajaan pohon tua yang menyebabkan produktivitas kebun terus merosot.
Koperasi Desa Harus Jadi Ujung Tombak Hilirisasi
Pada tahapan pemasaran, produk olahan lokal kerap tumbang saat menghadapi dominasi merek pabrikan raksasa. Mereka kalah dalam hal konsistensi rasa maupun jangkauan distribusi. Menurut Mahendra, jalan keluar dari persoalan ini adalah penguatan kelembagaan di tingkat akar rumput.
"Strategi hilirisasi tidak akan berjalan optimal tanpa adanya reformasi kelembagaan petani. Koperasi harus didorong untuk mampu mengolah biji mentah menjadi produk bernilai tambah langsung di sentra produksi," tegas Mahendra Utama.
Dengan penguasaan proses pengolahan sejak dari desa, Mahendra optimistis pekebun Lampung Barat perlahan bisa memegang kendali atas rantai niaga kopi mereka sendiri.