Pencarian

9 Ciri Anak Tumbuh di Keluarga dengan Emosi Tidak Stabil Menurut Psikolog

Selasa, 03 November 2026 • 14:06:01 WIB
9 Ciri Anak Tumbuh di Keluarga dengan Emosi Tidak Stabil Menurut Psikolog
Anak dari keluarga dengan emosi tidak stabil cenderung belajar menekan perasaannya sendiri.

LAMPUNG — Rumah yang penuh amarah dan suasana hati yang berubah-ubah meninggalkan bekas pada cara anak mengelola perasaannya hingga dewasa. Psikolog klinis Dr. Kim Sage dan Dr. Robyn Koslowitz membeberkan sembilan ciri yang sering muncul pada anak dari keluarga dengan emosi tidak stabil, mulai dari sulit menolak hingga mudah menyalahkan diri sendiri.

Orang tua yang akrab disebut "rapuh" secara emosional bukan berarti jahat. Mereka hanya belum dewasa dalam menghadapi stres, sehingga amarah atau mood buruknya tumpah ke anak. Psikolog klinis Dr. Kim Sage, PsyD, MA, menyebut orang tua rapuh sebagai sosok yang kronis terlibat dalam suasana hati, emosi, dan perilaku yang kacau, beracun, tidak dewasa, tidak konsisten, serta tidak dapat diprediksi.

Dalam keluarga sehat, orang tua berperan sebagai wadah emosional anak. Peran itu justru terbalik ketika orang tua rapuh: anak yang menampung emosi orang dewasa. Dr. Robyn Koslowitz, psikolog klinis dan penulis buku Post-Traumatic Parenting, menyebut pola ini membuat anak merasa bertanggung jawab atas perasaan orang tuanya.

1. Terlalu Suka Menyenangkan Orang Lain

Anak yang terbiasa menenangkan orang tua agar merasa aman akan tumbuh dengan keyakinan bahwa menyenangkan orang lain adalah bentuk cinta. Mereka sangat jeli membaca ekspresi orang, tetapi justru gagal menyatakan kebutuhannya sendiri.

"Jika menenangkan seseorang adalah cara agar tetap aman, orang-orang ini akan tumbuh dengan berpikir bahwa menyenangkan orang lain adalah bentuk cinta," kata Koslowitz.

2. Takut pada Emosi Sendiri

Ketika emosi sekecil apa pun memicu kemarahan orang tua, anak belajar bahwa perasaan itu berbahaya. Akibatnya, ia menekan sedih, kecewa, atau marah, lalu tidak berani membagikannya kepada siapa pun.

"Ketika emosi memicu kemarahan orang tua, anak akan belajar bahwa emosi itu berbahaya," ujar Koslowitz.

3. Pandai Merawat Orang Lain, tapi Lupa Dirinya

Anak dari orang tua yang terlalu protektif sering tumbuh sebagai perawat ulung. Namun di balik itu, mereka mengabaikan kebutuhan sendiri karena diajari bahwa rasa aman hanya muncul saat orang lain bahagia dan stabil.

"Kita belajar bahwa kita tidak penting. Merawat orang lain membuat kita penting, membuat kita merasa berharga, dilihat, dan divalidasi," kata Sage.

4. Suka Menjelaskan Berlebihan dan Mengulang Percakapan

Kebiasaan menjelaskan panjang lebar dan mengulang percakapan muncul dari kebutuhan validasi. Anak yang tumbuh dengan reaksi orang tua tak terduga terbiasa membela perasaannya lebih dulu, bahkan sebelum diminta.

5. Lebih Memilih Menyendiri

Isolasi diri menjadi pelarian untuk mendapat rasa aman dan rileks. Anak enggan berurusan dengan orang lain karena interaksi terasa melelahkan dan penuh risiko konflik.

6. Merasa Berlebihan dan Sulit Mengendalikan Emosi

Anak kerap merasa dirinya "terlalu banyak" atau menjadi beban. Perasaan ini membuatnya sulit mengatur emosi karena sejak kecil ia diajari bahwa perasaannya tidak layak didengar.

7. Perfeksionis

Standar tinggi menjadi cara anak menghindari kritik dan kemarahan. Ia percaya hanya dengan sempurna ia bisa diterima, sehingga kesalahan kecil terasa seperti ancaman besar.

8. Kewaspadaan Berlebihan pada Perubahan Kecil

Anak membaca perubahan nada suara, raut wajah, atau suasana rumah sebagai tanda bahaya. Kewaspadaan ini terbentuk karena ia terbiasa menebak-nebak mood orang tua demi menjaga ketenangan.

9. Gejala Somatik Setelah Bertemu Orang Tua

Keluhan fisik seperti sakit kepala, mual, atau sesak bisa muncul terutama setelah kontak dengan orang tua. Tubuh bereaksi terhadap stres yang tidak terselesaikan secara emosional.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Bila ciri-ciri di atas mulai mengganggu hubungan, pekerjaan, atau kesehatan mental anak dan orang tua, konsultasi dengan psikolog klinis jadi langkah bijak. Terapi membantu memutus pola yang diwariskan antar generasi.

Mengenali tanda ini bukan untuk menyalahkan diri. Justru dari kesadaran itu, ibu dan ayah bisa belajar mengelola emosi, memberi anak ruang merasa aman, dan menciptakan rumah yang lebih stabil untuk tumbuh kembangnya.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks