BANDAR LAMPUNG — Fluktuasi harga singkong yang kerap jatuh hingga Rp600-Rp700 per kilogram telah memicu demonstrasi berkepanjangan dari petani. Kondisi itu mendorong Pemprov Lampung mengambil peran mediator dengan mempertemukan petani, industri, dan pemerintah pusat hingga menghasilkan kesepakatan pengendalian impor.
Fluktuasi Harga dan 500.000 Petani Terdampak
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mencatat hampir setengah juta petani singkong di daerahnya selama bertahun-tahun menghadapi ketidakpastian harga. Saat harga anjlok, aksi protes pun tak terhindarkan. "Kondisi tersebut, bahkan memicu aksi demonstrasi berkepanjangan saat harga singkong jatuh hingga sekitar Rp600-Rp700 per kilogram," ujarnya dalam pernyataan resmi.
National Cassava Center: Ekosistem Terintegrasi untuk Petani
Pusat riset yang dinamakan National Cassava Center itu dirancang untuk memperkuat riset, meningkatkan produktivitas, mendorong hilirisasi, dan mempercepat kesejahteraan petani. Gubernur Mirza menekankan bahwa lembaga ini bukan sekadar gedung penelitian. "Ini titik awal pembangunan sebuah ekosistem di mana ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani dipertemukan dalam satu tempat," kata Rahmat Mirzani Djausal.
Modal Kuat: 70% Produksi Nasional dan Kesenjangan dengan Thailand
Lampung selama ini menjadi lumbung singkong nasional dengan kontribusi sekitar 70 persen. Namun, Gubernur Mirza mengakui produktivitas lahan masih tertinggal dibanding Thailand dan Vietnam. Kedua negara itu lebih dahulu mengembangkan riset, teknologi, serta dukungan pemerintah terhadap industri tapioka. Selama puluhan tahun, lanjutnya, industri dan petani bergerak sendiri-sendiri tanpa ekosistem terintegrasi.
Peran Pemprov sebagai Mediator: Pengendalian Impor Jadi Kunci
Pemprov Lampung mengambil langkah mempertemukan petani, industri, dan pemerintah pusat. Hasilnya, kebijakan pengendalian impor mulai diterapkan sehingga industri dapat meningkatkan harga beli singkong dari petani. "Upaya tersebut, menghasilkan kesepakatan yang mendorong kebijakan pengendalian impor," jelas Gubernur Mirza.
Dengan beroperasinya National Cassava Center, Pemprov berharap rantai nilai singkong dapat terintegrasi penuh — dari riset hingga kesejahteraan petani. Lampung diyakini mampu memimpin pengembangan komoditas ini di tingkat nasional.