Pencarian

70% Penduduk Lampung Tergantung Pertanian, Gubernur Mirza Usulkan Kawasan Industri Pangan ke Bappenas

Minggu, 26 Juli 2026 • 23:52:31 WIB
70% Penduduk Lampung Tergantung Pertanian, Gubernur Mirza Usulkan Kawasan Industri Pangan ke Bappenas
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan usulan pembangunan kawasan industri pangan kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas Rahmat Pambudy di Bandar Lampung.

BANDAR LAMPUNG — Provinsi Lampung yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan nasional ternyata belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari hasil pertaniannya. Dari total produksi ubi kayu yang menyumbang sekitar 70 persen kebutuhan tapioka Indonesia, hingga nanas yang mencapai 23 persen produksi dunia, hampir semuanya masih dikirim keluar daerah dalam wujud mentah.

Kondisi itulah yang mendorong Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan usulan pembangunan kawasan industri pangan saat menerima kunjungan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rahmat Pambudy di ruang kerjanya, Jumat kemarin. Menurut Mirza, hilirisasi menjadi jalan keluar agar petani dan pelaku usaha lokal bisa merasakan langsung manfaat ekonominya.

Mengapa Lampung Sangat Membutuhkan Kawasan Industri Pangan?

Sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Lampung. Sekitar 70 persen penduduk bekerja di lahan dan kebun, sementara provinsi ini tidak memiliki sumber daya tambang atau minyak. "Bagaimana sisa komoditas yang belum dihilirisasi ini dapat diolah di Lampung. Karena itu, dibutuhkan kawasan industri pangan agar nilai tambah tetap berada di daerah," kata Mirza.

Data yang dipaparkan Pemprov Lampung menunjukkan betapa besarnya potensi yang belum tergarap. Produksi padi Lampung menempati peringkat keenam nasional, jagung di peringkat kelima dengan 70 persen hasil panen dipasok sebagai bahan baku pakan ternak. Lampung juga penghasil utama ubi kayu, nanas terbesar dunia, serta sentra produksi pisang, tebu, kopi, kakao, lada, karet, dan kelapa sawit.

Dukungan Bappenas: Hilirisasi Berbasis Pertanian Jadi Prioritas

Menteri Rahmat Pambudy menilai Lampung memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat industri pangan nasional. Dalam kunjungannya, ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya tinggi, tetapi juga harus diikuti pemerataan kesejahteraan masyarakat. "Caranya adalah melalui hilirisasi berbasis pertanian," tegasnya.

Rahmat mengapresiasi pendekatan pembangunan berbasis desa yang dipaparkan Pemprov Lampung. Bappenas, katanya, siap mempelajari usulan kawasan industri pangan tersebut guna dirumuskan menjadi program konkret pembangunan nasional. Salah satu komoditas yang disebut mendapat perhatian khusus adalah singkong, yang bisa dikembangkan untuk pangan dan bioenergi.

Komoditas Unggulan yang Siap Diolah di Dalam Negeri

Lampung bukan sekadar pemasok bahan mentah. Jagung, ubi kayu, dan nanas memiliki rantai nilai panjang jika diolah menjadi tepung, pakan ternak, atau produk olahan lainnya. Tebu bisa dijadikan gula dan etanol, sementara kopi dan kakao berpotensi menjadi produk ekspor bernilai tinggi. Namun, tanpa kawasan industri yang terintegrasi, nilai tambah itu terus mengalir ke luar daerah.

Gubernur Mirza berharap usulan ini bisa segera ditindaklanjuti agar petani tidak lagi hanya menjual hasil panen dengan harga murah ke tengkulak atau pabrik di luar provinsi. "Kami ingin Lampung tidak hanya menjadi lumbung, tetapi juga menjadi pusat pengolahan pangan nasional," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: lampung.viva.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks