Pencarian

BYD Desak Pemerintah Bedakan PHEV dari Hybrid Biasa Demi Dorong Transisi ke Mobil Listrik

Jumat, 19 Juni 2026 • 23:18:31 WIB
BYD Desak Pemerintah Bedakan PHEV dari Hybrid Biasa Demi Dorong Transisi ke Mobil Listrik
Head of Marketing BYD Indonesia, Luther Panjaitan, mengusulkan pembedaan kategori PHEV dan hybrid konvensional kepada pemerintah.

LAMPUNG — Harapan tersebut disampaikan langsung oleh Head of Marketing PR and Government Relations BYD Indonesia Luther Panjaitan di Jakarta belum lama ini. Menurut Luther, kapasitas baterai PHEV yang jauh lebih besar dari hybrid biasa menjadi alasan utama pembedaan itu. Mobil jenis ini juga dirancang untuk bisa menempuh jarak tertentu hanya dengan tenaga listrik, sebelum mesin bensin bekerja.

PHEV Bukan Sekadar Hybrid dengan Baterai Lebih Besar

"Kita memang sangat mengharapkan teknologi PHEV ini dikategorikan sebagai EV karena dia sangat beda. Secara kapasitas baterai lebih tinggi, teknologi dan skema di ICE beda, jadi betul-betul untuk dukung pengisian baterai," kata Luther.

Dia menambahkan orientasi utama PHEV sebenarnya adalah kendaraan listrik yang dilengkapi mesin sebagai cadangan. Hal ini berbeda dengan hybrid konvensional yang mengandalkan motor listrik hanya untuk membantu efisiensi mesin bensin.

Insentif Tak Harus Setara Mobil Listrik Murni, tapi Harus Lebih Baik dari ICE

Saat ini, mobil PHEV dan hybrid masih diperlakukan sama dengan kendaraan konvensional. Pemiliknya tidak bisa menikmati pelat nomor biru, bebas ganjil genap, atau insentif fiskal seperti yang didapat mobil listrik murni. Luther menegaskan, kondisi ini kurang mendorong adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

"Karena kalau sekarang, selama itu hybrid sama aja kayak ICE," ujarnya.

BYD tidak menuntut insentif yang setara dengan mobil listrik murni. Yang diharapkan adalah adanya manfaat lebih bagi pengguna PHEV dibandingkan saat mereka masih memakai mobil konvensional.

"Ini untuk mendukung transisi masif," kata Luther.

Usulan Masih Tahap Awal, BYD Baru Luncurkan M6 DM

Luther mengakui usulan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum dibahas secara intensif dengan pemerintah. Namun, BYD terus menggali kemungkinan agar PHEV bisa dikategorikan sebagai kendaraan listrik, seperti yang sudah diterapkan di negara lain.

Dorongan ini muncul tak lama setelah BYD resmi meluncurkan M6 DM di Indonesia. Model tersebut merupakan mobil keluarga (MPV) dengan teknologi plug-in hybrid yang menjadi andalan baru BYD di pasar Tanah Air. Dengan adanya insentif yang tepat, BYD optimistis adopsi PHEV bisa berlangsung lebih masif.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks