Pencarian

Harga Pertamax Tak Bisa Langsung Turun Meski Minyak Dunia Melandai, Ini Sebabnya

Kamis, 18 Juni 2026 • 02:43:31 WIB
Harga Pertamax Tak Bisa Langsung Turun Meski Minyak Dunia Melandai, Ini Sebabnya
Harga Pertamax tidak langsung turun meski harga minyak dunia melandai karena perhitungan menggunakan rata-rata periode tertentu.

LAMPUNG — Josua menjelaskan, perhitungan harga BBM menggunakan rata-rata periode tertentu, bukan fluktuasi harian. Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, harga merupakan keputusan kebijakan negara yang mempertimbangkan daya beli masyarakat dan APBN. Ketika harga minyak turun, ruang fiskal yang terbuka lebih dulu dipakai mengurangi beban subsidi dan kompensasi yang sebelumnya membengkak.

"Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU," tegas Josua saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (17/6/2026).

Lonjakan Harga Minyak dan Depresiasi Rupiah Jadi Biang Kerok

Menurut Josua, tingginya harga keekonomian Pertamax dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang melampaui asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Kondisi ini diperparah depresiasi nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor energi.

Ia menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah koreksi yang diperlukan. "Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina," ujarnya.

Harga Rp12.300 Kembali Bukan Mustahil, Tapi Butuh Waktu

Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyaki melihat perdamaian Iran-AS sebagai sentimen positif yang berpotensi menekan harga minyak mentah global. Namun, penurunan harga Pertamax hingga kembali ke level Rp12.300 per liter tidak akan terjadi dalam waktu singkat.

"Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu," kata Yayan.

Ia memperkirakan harga minyak dapat terkoreksi sekitar 1% hingga 3% per hari selama beberapa bulan ke depan. Namun, arah pergerakan energi global sangat bergantung pada situasi geopolitik dan implementasi perdamaian kedua negara.

Proyeksi Harga Minyak hingga Akhir 2026

Yayan menambahkan, harga Brent berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026, sebelum kembali naik pada Agustus hingga September seiring berakhirnya musim panas di belahan bumi utara. Pasar minyak global, menurutnya, belum memasuki keseimbangan harga baru dalam waktu dekat.

Berdasarkan proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) dari Energy Information Administration (EIA) AS, peningkatan produksi minyak AS yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari akan menjadi faktor utama penahan kenaikan harga pasca-perdamaian. Dengan asumsi konflik berakhir dan pasokan stabil, Yayan memprediksi harga minyak dunia bergerak di rentang US$80-US$90 per barel hingga akhir tahun, lalu turun ke US$75-US$85 per barel pada awal tahun depan.

Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks