LAMPUNG — Peresmian ini bertepatan dengan seremoni groundbreaking megaproyek PLTS 100 GWp yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dari Monumen Operasi Gilimanuk, Bali. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan CEO Danantara Rosan Roeslani turut hadir dalam acara yang terhubung secara virtual dengan Pulau Sembur yang berjarak sekitar 1.000 kilometer tersebut.
Dari Genset 4 Jam ke Listrik 24 Jam
Kehadiran PLTS ini mengubah total aktivitas warga Pulau Sembur. Sebelumnya, pasokan listrik hanya mengandalkan genset berbahan bakar solar yang terbatas. Kini, aliran listrik mengalir sepanjang hari, menghidupkan fasilitas umum dan rumah warga.Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyebut proyek ini sebagai wujud nyata penguatan ekonomi desa melalui kemandirian energi. "Hari ini kita menyaksikan visi kemandirian energi mulai terwujud," ujarnya dalam siaran resmi yang diterima redaksi, Selasa (25/8).
Yang menarik, proyek ini tidak sekadar memasang panel surya. Pertamina NRE melengkapi PLTS dengan sistem penyimpanan baterai (BESS) berkapasitas 1 MWh. Ada pula mesin pembuat es (ice maker) berkapasitas 4 ton per hari dan gudang pendingin (cold storage) 5 ton yang khusus diperuntukkan bagi nelayan setempat.
Menyala, Menghidupkan Ekonomi Desa
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menjelaskan bahwa infrastruktur pendukung tersebut dirancang untuk menjadi penggerak roda ekonomi. Hasil tangkapan ikan yang selama ini cepat membusuk, kini bisa disimpan lebih lama di cold storage."Energi bersih harus jadi penggerak ekonomi. Ada cold storage, ada ice maker, ada aktivitas koperasi," kata John Anis saat memberikan keterangan.
Dampak ekonominya pun terukur. Penggunaan PLTS ini diperkirakan menghemat konsumsi BBM hingga 320 ribu liter per tahun. Dalam nilai rupiah, penghematan tersebut setara dengan Rp3,5 miliar hingga Rp5 miliar setiap tahunnya. Skema ini menjadi pilot project nasional yang melibatkan koperasi desa dalam pengelolaannya.
Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini membuktikan kolaborasi antara pemerintah pusat, BUMN, pemerintah daerah, dan koperasi mampu mempercepat transisi energi. Proses pembangunan yang dimulai sejak Desember 2025 dan rampung pada Agustus 2026 menjadi contoh konkret percepatan tersebut.
Presiden Prabowo sendiri menegaskan bahwa target 100 GWp bukan sekadar angka, melainkan fondasi menuju kemandirian bangsa. "Dengan 100 GW, kita akan menjadi bangsa yang benar-benar mandiri," tegasnya dalam sambutan yang disiarkan dari Bali.
Keberhasilan di Pulau Sembur ini diharapkan menjadi cetak biru bagi pengembangan PLTS di pulau-pulau terluar lainnya di Indonesia.