LAMPUNG — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai potensi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kelapa sawit di Indonesia masih sangat besar. Direktur Program INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini, mengatakan pelaku usaha dapat menggarap produk turunan sawit, mulai dari bidang pangan (oleofood), bahan kimia (oleochemical), hingga bioenergi.
“Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit,” kata Eisha di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Kontribusi Ekspor UMKM Masih 15%, Sawit Jadi Peluang
Eisha menekankan bahwa pelaku UMKM sawit perlu berani meningkatkan daya saing dan masuk ke pasar internasional. Pasalnya, kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor nasional saat ini masih relatif rendah, yakni baru sekitar 15%.
Padahal, hilirisasi kelapa sawit yang berjalan selama ini telah menciptakan efek ekonomi berantai yang luas. Dampaknya terasa mulai dari peningkatan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani hingga perluasan lapangan kerja di berbagai daerah.
Dampak Hilirisasi terhadap Ekonomi Petani dan Industri
Program hilirisasi sawit tidak hanya berhenti pada peningkatan nilai tambah produk di tingkat industri. Lebih dari 193 jenis produk turunan yang sudah dihasilkan memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.
Eisha menambahkan, dorongan untuk memperkuat UMKM berbasis sawit ini sejalan dengan upaya pemerintah mewujudkan industri sawit yang berkelanjutan. Strategi pengembangan produk berorientasi ekspor menjadi salah satu kunci untuk mencapai target tersebut.
Dengan jumlah produk turunan yang sudah mencapai 193 jenis, ruang bagi UMKM untuk berinovasi dan mengisi rantai pasok global masih terbuka lebar. Langkah ini diharapkan mampu mengerek kontribusi ekspor UMKM yang selama ini masih tertinggal dibandingkan usaha besar.