BANDAR LAMPUNG — Konsentrasi partikulat halus PM 2,5 menjadi penyumbang utama memburuknya kualitas udara di ibu kota Provinsi Lampung tersebut. Berdasarkan data pemantauan IQAir pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM 2,5 mencapai 45,1 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas standar kesehatan harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pemantauan kedua pada pukul 11.39 WIB masih menunjukkan kondisi serupa dengan angka 124 AQI US dan konsentrasi PM 2,5 sebesar 45 mikrogram per meter kubik. Data ini juga selaras dengan rekaman stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) milik pemerintah di kawasan Sukarame, tepatnya di belakang Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandar Lampung.
Masker Jadi Proteksi Kunci Bagi Kelompok Rentan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, menegaskan bahwa penggunaan masker bukan sekadar imbauan, melainkan langkah proteksi penting untuk meminimalkan paparan polutan. Kelompok yang paling berisiko adalah balita, anak-anak, lansia, serta warga dengan riwayat gangguan pernapasan.
"Untuk masyarakat, kami mengimbau agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan memperbanyak minum air putih. Kondisi udara saat ini sedang tidak baik," ujar Muhtadi.
Dinkes Himpun Data ISPA dari Seluruh Puskesmas
Menghadapi cuaca kemarau yang tengah melanda, Dinkes Bandar Lampung saat ini tengah menghimpun data rekapitulasi berkala dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas. Pendataan ini dilakukan untuk melihat korelasi langsung antara penurunan kualitas udara, sebaran debu kemarau, dan tren penyakit di masyarakat.
"Di masing-masing puskesmas ada data 10 besar penyakit. Jika angka ISPA tinggi, berarti ada keterkaitan langsung antara kualitas udara dan kondisi kemarau ini," jelasnya.
Faskes Tingkat Pertama Siap Layani Warga Terdampak
Terkait paparan debu di titik-titik rawan seperti kawasan industri atau permukiman padat penduduk, Muhtadi memastikan fasilitas kesehatan tingkat pertama siap memberikan pelayanan promotif hingga preventif. Ia menekankan pentingnya akurasi data serta koordinasi lintas sektoral sebelum menarik kesimpulan terkait dampak lingkungan terhadap kesehatan publik.
Warga yang mengalami keluhan pernapasan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau iritasi tenggorokan diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Dinkes juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunda pengobatan jika gejala ISPA mulai muncul, terutama pada anak-anak dan lansia.