Pencarian

Maulid Nabi 1448 H di Lampung: Tiga Teladan Rasulullah Jadi Kompas Moral Lawan Krisis Integritas dan Perpecahan

Selasa, 25 Agustus 2026 • 14:53:31 WIB
Maulid Nabi 1448 H di Lampung: Tiga Teladan Rasulullah Jadi Kompas Moral Lawan Krisis Integritas dan Perpecahan
Umat Muslim mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lampung.

BANDAR LAMPUNG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 2026 Masehi diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat di Lampung untuk kembali menyelami nilai-nilai luhur Rasulullah. Ketua DPD GRANAT Provinsi Lampung sekaligus Ketua PD VIII KB FKPPI Provinsi Lampung, H. Tony Eka Candra, menegaskan bahwa keteladanan Nabi adalah kompas moral di tengah derasnya arus globalisasi dan kompleksitas peradaban modern.

Integritas dan Kejujuran: Modal Utama Membangun Kepercayaan Publik

Tony mengingatkan bahwa jauh sebelum diangkat menjadi utusan Allah, penduduk Mekkah telah menyematkan gelar Al-Amin, yang berarti dapat dipercaya, kepada Nabi Muhammad SAW. Gelar tersebut menjadi bukti bahwa integritas adalah fondasi utama dalam membangun tatanan sosial yang sehat.

Menurutnya, di tengah maraknya godaan yang menguji kejujuran, keteladanan Nabi mengajarkan bahwa pengabdian, baik sebagai pemimpin, tokoh masyarakat, maupun abdi negara, harus dilandasi niat tulus dan kejujuran yang tidak bisa ditawar. Kepercayaan masyarakat hanya dapat diraih jika ucapan selaras dengan perbuatan.

Kepedulian Sosial: Benteng Perlindungan bagi Generasi Muda

Aspek kedua yang ditekankan Tony adalah kepedulian sosial dan perlindungan generasi. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi anak yatim, menghormati yang tua, dan mengangkat harkat martabat kaum lemah.

Di era sekarang, wujud meneladani kasih sayang tersebut adalah kepedulian nyata terhadap lingkungan sekitar. Tony mengajak elemen masyarakat untuk proaktif melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman penyalahgunaan narkotika dan pergaulan bebas. “Membangun umat dan bangsa yang kuat harus dimulai dengan menyelamatkan dan membina anak-anak generasi mudanya,” ujarnya.

Piagam Madinah: Warisan Bijak Merawat Kebhinnekaan

Pilar ketiga yang relevan dengan kondisi kebangsaan saat ini adalah kebijaksanaan dalam merawat persatuan, atau fathonah. Nabi Muhammad SAW, melalui Piagam Madinah, telah mencontohkan bagaimana merajut kerukunan di tengah kemajemukan suku, ras, dan agama.

Tony menilai nilai-nilai toleransi dan gotong royong warisan Rasulullah ini adalah perekat yang mencegah perpecahan di masyarakat Lampung yang majemuk. Perbedaan, tegasnya, tidak boleh menjadi sumber konflik, melainkan harmoni yang memperkuat langkah membangun daerah.

Dirinya menutup pesan dengan ajakan agar kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup dibuktikan lewat selawat di bibir, tetapi termanifestasi dalam setiap langkah kehidupan. “Kita dituntut menjadi pribadi yang membawa manfaat, menghadirkan solusi, dan menebarkan kedamaian di mana pun berada,” pungkasnya.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: gemamedia.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks