LAMPUNG — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia mulai mengekspor beras ke Malaysia setelah produksi nasional 2026 diproyeksikan surplus. Pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton itu disebut berpeluang berkembang menjadi 200.000 ton hingga 1 juta ton sesuai permintaan pasar.
Pernyataan itu disampaikan Amran saat menjadi inspektur upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta, Senin (17/8/2026). Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian, produksi beras tahun ini diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sementara kebutuhan nasional 31,10 juta ton. Stok cadangan beras pemerintah hingga Agustus tercatat 5,25 juta ton.
Pekerjaan Rumah: Daging Sapi, Susu, dan Kedelai
Di tengah klaim surplus beras, Amran mengakui pemerintah masih mengejar swasembada tiga komoditas dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Ketiganya memiliki rantai produksi yang berbeda dengan beras karena bergantung pada pakan ternak, populasi ternak, produktivitas peternakan, dan investasi.
"Dari 11 komoditas, masih ada tiga yang harus kita kejar, yaitu daging sapi, susu dan kedelai. Kami yakin kalau kita kolaborasi dan kompak, pasti ini bisa kita capai," kata Amran dalam keterangan tertulis.
Data FAO yang dikutip Kementan menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar dunia. Namun prospek produksi padi tetap dipengaruhi cuaca, luas tanam, produktivitas, dan kebijakan input pertanian seperti subsidi pupuk.
Klaim NTP Tertinggi dalam 34 Tahun Masih Menunggu Data BPS
Amran menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127,84 pada Juli 2026, level tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Capaian itu disebutnya menjadi bukti perbaikan kesejahteraan pelaku usaha tani dan peternakan.
Data BPS untuk Juni 2026 menunjukkan NTP nasional berada di 127,65, turun tipis 0,06 persen dibandingkan Mei yang sebesar 127,73. Penurunan terjadi karena indeks harga yang diterima petani tumbuh lebih rendah ketimbang indeks harga yang dibayar petani. Angka Juli yang disampaikan Amran masih menunggu publikasi resmi BPS untuk memastikan rincian pergerakannya.
Harga Beras Premium di Penggilingan Naik 1,01 Persen
BPS mencatat rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan pada Juni 2026 mencapai Rp14.815 per kilogram, naik 1,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga beras medium berada di Rp13.525 per kilogram atau naik 0,92 persen.
Kenaikan itu menunjukkan peningkatan produksi nasional tidak serta-merta menekan seluruh mata rantai harga pangan. Harga di tingkat penggilingan tetap dipengaruhi biaya produksi, harga gabah, permintaan, dan kondisi pasar.
Pemerintah mengandalkan kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen untuk menekan biaya produksi. Amran menyebut kebijakan itu belum pernah terjadi selama Indonesia merdeka.
"Tidak pernah terjadi selama Republik Indonesia merdeka. Di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto, ini luar biasa, sektor pertanian mengalami kebangkitan," ujar Amran.
Tantangan Baru Setelah Surplus: Menjaga Stabilitas Harga dan Pasar Ekspor
Surplus produksi membawa tantangan baru bagi pemerintah. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, pengiriman ke luar negeri harus dikelola tanpa mengganggu stabilitas harga di dalam negeri.
"Alhamdulillah, di saat krisis melanda belahan dunia, Indonesia surplus, bahkan ekspor beras ke negara lain," kata Amran.
Amran menegaskan capaian produksi merupakan hasil kerja kolektif, bukan kerja pribadinya. "Ini adalah persembahan dari Bapak-Ibu semua. Bukan kerja saya, ini kerja kita semua," ucapnya.