Pencarian

Trump-Xi Jinping Bertemu, Persaingan Supremasi AI AS-China Memanas

Kamis, 24 September 2026 • 16:35:02 WIB
Trump-Xi Jinping Bertemu, Persaingan Supremasi AI AS-China Memanas
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berjabat tangan dalam pertemuan yang menyoroti persaingan AI kedua negara.

LAMPUNG — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan di tengah persaingan pengembangan kecerdasan buatan kedua negara. Trump secara terbuka menyebut perlombaan AI sebagai pertarungan menentukan, sementara Beijing lebih memilih memperluas penerapan teknologi itu ke seluruh sektor ekonomi. Kedua negara kini bersaing ketat di dua jalur berbeda: model mutakhir versus model terbuka.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping menyoroti satu kenyataan yang jarang dibahas terbuka: Amerika Serikat dan China sama-sama memandang AI sebagai instrumen kekuatan, tetapi dengan strategi yang bertolak belakang. Trump menyatakan siapa pun yang memenangkan perlombaan AI akan menjadi pemenang, sementara Xi Jinping tidak pernah mengungkapkan hal itu secara blak-blakan.

"China benar-benar memandang hal ini sebagai sebuah perlombaan; mereka sangat meyakini bahwa China harus menjadi kekuatan terdepan dalam bidang AI. Mereka melihat AI sebagai sarana untuk memaksimalkan kekuatan," ujar Rebecca Arcesati dari Mercator Institute for China Studies.

AS Unggul di Model AI Paling Mutakhir

Perusahaan-perusahaan Amerika memimpin di kategori frontier models, atau model AI paling canggih. Sistem dengan kinerja terbaik pada sebagian besar tolok ukur berasal dari Anthropic, Google, dan OpenAI.

Pada Februari 2025, model AI buatan DeepSeek sempat menyamai model terbaik AS. Namun per Maret 2026, model unggulan Anthropic kembali memimpin dengan selisih hanya 2,7 persen menurut peneliti Stanford University.

Kelebihan AS sebagian berasal dari derasnya investasi ke perusahaan AI terkemuka. Laboratorium pengembang model mutakhir menghabiskan dana besar untuk membangun infrastruktur pelatihan model baru. Pasar saham ikut melonjak, dan sebagian besar ekspansi ekonomi AS bergantung pada pertumbuhan perusahaan-perusahaan AI.

Pemerintah AS juga memberlakukan pembatasan ketat: perusahaan dilarang menjual chip mikro canggih ke perusahaan China, padahal komponen itu krusial untuk mengembangkan model AI mutakhir.

China Pilih Jalur Model Terbuka dan Penerapan Massal

Meski dibatasi akses chip, model AI baru terus bermunculan hampir setiap bulan di kedua negara. Banyak perusahaan berlomba mengembangkan artificial general intelligence (AGI), bentuk teoretis AI yang mampu belajar, menalar, dan mengerjakan berbagai tugas setara atau melampaui manusia.

Industri AI China tidak berfokus menciptakan model mutakhir, melainkan merilis model open-weight yang dapat diunduh dan dimodifikasi, mirip perangkat lunak open source. Pendekatan ini kontras dengan perusahaan AS yang mayoritas mengandalkan model proprietary berlangganan.

Model open-weight China dirilis sangat cepat. Data tolok ukur menunjukkan model unggulan negara itu hanya tertinggal beberapa bulan di belakang pesaing AS. Model seperti Kimi K3 dari Moonshot AI populer di dalam maupun luar China karena kinerjanya mendekati model mutakhir, tetapi gratis diunduh dan bisa disesuaikan.

"AI bukanlah misi pendaratan di bulan," ujar Lizzi Lee, analis China dari Asia Society Policy Institute.

"AS mungkin memimpin dalam hal teknologi mutakhir, sementara China tetap bisa memperoleh keuntungan ekonomi dan geopolitik yang sangat besar dengan cara menjadikan AI yang andal sebagai teknologi yang murah, terbuka, dan tersedia di mana-mana," terang Lee.

Energi Murah dan Robotika Jadi Kartu Andalan Beijing

AI sangat boros energi, dan China punya posisi menguntungkan di sektor ini. Menurut Rebecca Arcesati kepada program Tech Life BBC World Service, perusahaan AI China dapat mengakses listrik dengan biaya jauh lebih rendah.

"Perusahaan AI China dapat mengakses listrik yang mereka butuhkan dengan biaya jauh lebih rendah, dan itu benar-benar merupakan sebuah keuntungan," ucapnya.

Di bidang robotika, China telah menjadi produsen robot terbesar di dunia. Lebih dari dua juta robot beroperasi di pabrik-pabrik negara tersebut menurut perkiraan International Federation of Robotics. China juga pembuat robot humanoid terbesar dunia, dengan Chatham House mencatat negara itu menyumbang lebih dari sembilan persepuluh total pengiriman global pada paruh pertama periode pengukuran.

Bagi pelaku industri digital Indonesia, persaingan AS-China ini berdampak langsung pada ketersediaan model AI yang bisa diadopsi. Model open-weight China menawarkan alternatif berbiaya rendah bagi startup lokal yang ingin membangun layanan berbasis AI tanpa bergantung pada langganan model proprietary.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks