BANDAR LAMPUNG — Empat akademisi Universitas Lampung berangkat ke Da Lat, Vietnam, untuk mengikuti 2nd HARVEST International University Gathering for Agroecology and Food Sovereignty. Kegiatan berlangsung 22–25 September 2026 di Da Lat University.
Keempat delegasi itu adalah Indra Jaya Wiranata dari Program Studi Hubungan Internasional, Susana Indriyati Caturiani dari Administrasi Negara, Fuad Abdulgani dari Sosiologi, serta Dodi Faedlulloh dari Administrasi Negara. Komposisi lintas disiplin ini mencerminkan cara HARVEST memandang persoalan pangan.
Isu pertanian dan pangan tidak hanya soal produksi. HARVEST mengaitkannya dengan masyarakat, kebijakan publik, tata kelola, relasi sosial, hubungan internasional, dan keberlanjutan lingkungan.
Apa Itu Proyek HARVEST dan Siapa Saja Anggotanya
HARVEST Project merupakan singkatan dari Higher Education Leadership on Agricultural and Food Rights for Environmental Sustainability. Proyek ini didanai melalui program Erasmus+ Uni Eropa.
Konsorsiumnya mempertemukan delapan perguruan tinggi dari Eropa dan Asia Tenggara. Universidad de Sevilla (US) dari Spanyol bertindak sebagai koordinator utama, didampingi University of Agriculture in Krakow (URK) dari Polandia.
Dari Asia Tenggara, anggota konsorsium terdiri atas Unila, Associated Program for International law (Apintlaw), dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) dari Indonesia. Vietnam diwakili Dalat University (DLU) dan Vietnam National University of Forestry (VNUF), sedangkan Kamboja mengirim Svay Rieng University (SRU) dan Prek Leap National College of Agriculture (NIA).
Agenda di Da Lat: dari Diskusi Meja Bundar hingga Kunjungan Kebun Teh dan Kopi
Pertemuan di Da Lat menjadi ruang bagi pimpinan perguruan tinggi, akademisi, peneliti, dan ahli dari institusi mitra. Mereka memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan tinggi, penelitian, dan inovasi pertanian serta sistem pangan berkelanjutan.
Salah satu perhatian utama forum adalah penguatan kapasitas produksi pertanian organik. Peserta juga membahas pengembangan sistem pangan yang memberi perhatian pada pasar lokal dan pasar kawasan sekitar.
Pendekatan itu menempatkan masyarakat, produsen pangan, dan lingkungan sebagai bagian penting dalam pembangunan sistem pangan. Selama kegiatan, peserta mengikuti presentasi, diskusi, debat, dan roundtable discussion.
Agenda akademik itu menjadi ruang pertukaran pengetahuan antar perguruan tinggi. Bahasan mencakup pengembangan pembelajaran, penelitian, inovasi, serta keterlibatan masyarakat dalam isu pertanian berkelanjutan dan sistem pangan lokal.
Di luar ruang diskusi, peserta melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi pertanian di sekitar Da Lat. Mereka melihat langsung praktik produksi setempat, termasuk perkebunan padi, teh, dan kopi, serta kawasan produksi anggur dan buah anggur.
Posisi Unila dalam Jejaring Internasional
Bagi Unila, keterlibatan dalam HARVEST memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan keberlanjutan. Pendekatannya menghubungkan pendidikan, penelitian, kebijakan, dan keterlibatan masyarakat.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi Eropa dan Asia Tenggara membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, dan kerja sama akademik lintas negara. Melalui HARVEST, anggota konsorsium memperkuat kapasitas pendidikan tinggi di bidang hak atas pangan, pertanian berkelanjutan, agroekologi, dan keberlanjutan lingkungan.
Keikutsertaan empat perwakilan Unila di Da Lat diharapkan memperluas jejaring internasional kampus tersebut. Dampaknya diarahkan pada pengembangan sistem pertanian dan pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat lokal.