Pencarian

539 Petani Kopi di Lampung Terapkan Pola Integrasi dengan Ternak Kambing, Hasilkan Pupuk Organik Sendiri

Selasa, 28 Juli 2026 • 01:49:31 WIB
539 Petani Kopi di Lampung Terapkan Pola Integrasi dengan Ternak Kambing, Hasilkan Pupuk Organik Sendiri
Petani kopi di Lampung menunjukkan kotoran kambing yang telah difermentasi menjadi pupuk organik di lahan perkebunan mereka.

BANDARLAMPUNG — Ratusan petani kopi di Lampung tak lagi mengandalkan pupuk kimia sepenuhnya. Mereka kini mengelola kotoran kambing menjadi pupuk organik dan memanfaatkan kulit kopi sebagai campuran pakan ternak. Pola ini menjadi bagian dari program ICARE yang mendorong pertanian terintegrasi.

Plt Kepala BRMP Lampung Endro Gunawan mengatakan, para petani yang tergabung dalam program ini telah menjalani pelatihan cara budidaya dan penanganan pascapanen yang lebih baik. "Kami terus mendorong petani agar bergabung dalam kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk koperasi," ujarnya di Bandarlampung, Senin.

Lima Koperasi Binaan di Tanggamus

BRMP Lampung telah membentuk lima koperasi binaan di Kabupaten Tanggamus. Total anggota mencapai 1.007 orang yang tersebar di tiga kecamatan: Ulubelu (321 orang), Air Naningan (473 orang), dan Pulau Panggung (213 orang).

Para petani ini tidak hanya dibekali teknik menanam. Mereka juga diajarkan pemupukan berimbang, pemangkasan, rehabilitasi tanaman, hingga cara membuat silase atau pakan fermentasi untuk kambing.

Kulit Kopi Jadi Pakan, Kotoran Kambing Jadi Pupuk

Salah satu inovasi dalam program ini adalah pemanfaatan limbah perkebunan. Kulit kopi yang biasanya dibuang kini diolah menjadi campuran pakan ternak. Sebaliknya, kotoran kambing difermentasi menjadi pupuk organik untuk tanaman kopi.

Endro menjelaskan, siklus tertutup ini membuat biaya produksi petani lebih efisien. "Dengan melakukan GAP dan GHP, para anggota koperasi sebagai aktor utama penghasil produk kopi dan kambing memiliki kompetensi serta meningkatkan kapasitas, dan bisa memasarkan produknya dengan baik," tambahnya.

Panen Tua dan Penjemuran Pakai Terpal

Penerapan GHP juga mengubah kebiasaan panen petani. Mereka kini menerapkan panen tua — memetik buah kopi yang benar-benar merah — dan menjemur biji kopi minimal menggunakan alas terpal. Langkah ini meningkatkan mutu biji kopi yang dihasilkan.

Menurut Endro, koperasi binaan sudah mulai menjalankan bisnis penyediaan sarana produksi, seperti pupuk anorganik berkualitas, untuk mendukung penerapan GAP. "Petani anggota koperasi pun sudah mendapatkan kemudahan dalam pembelian pupuk berkualitas," ujarnya.

Rencana Hilirisasi pada 2026

BRMP Lampung tidak berhenti pada pendampingan teknis. Pada 2026 mendatang, ada rencana pengembangan bisnis koperasi ke aspek pemasaran biji kopi dan hilirisasi. Artinya, petani tidak hanya menjual bahan mentah, tapi produk olahan yang bernilai tambah.

Koperasi juga mulai melayani penjualan sarana produksi ke petani lain di luar anggota. Ini memperkuat posisi tawar petani kopi di Lampung yang selama ini kerap menjadi pihak yang lemah dalam rantai pasok.

Program ICARE sendiri merupakan inisiatif pertanian terpadu yang menyasar petani kecil. Dengan integrasi kopi-kambing, petani mendapat dua sumber pendapatan sekaligus: biji kopi dan ternak. Limbah dari satu sektor menjadi input bagi sektor lain — sebuah siklus yang membuat usaha tani lebih tangguh.

Bagikan
Sumber: lampung.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks