LAMPUNG — Hingga pukul 09.10 WIB, harga saham BBCA terpangkas 4,04% ke Rp 4.870. Level ini menjadi yang terendah sejak 2020. Sebagai perbandingan, saham yang dijuluki "primadona" itu sempat menyentuh puncak historis di Rp 10.950 pada September 2024. Artinya, kapitalisasi pasar bank swasta terbesar itu sudah menyusut nyaris setengahnya dalam waktu kurang dari setahun.
Nasib serupa dialami BBRI. Saham bank pelat merah ini merosot 4,38% ke Rp 2.620 pada pukul 09.14 WIB. Level tertinggi saham BBRI dalam setahun terakhir tercatat di Rp 6.400 pada Maret 2024. Kini, harga sahamnya sudah lebih dari separuh dari puncak tersebut.
Tekanan juga melanda dua bank BUMN lainnya. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sempat jatuh 4,67% ke Rp 3.060, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,86% ke Rp 3.730. Aksi jual ini membuat IHSG terperosok 245,15 poin ke level 5.349 pada pukul 09.10 WIB.
Faktor Domestik Kini Jadi Pemicu Utama
Analis pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan di pasar keuangan Indonesia saat ini tidak semata-mata karena faktor global. Meski suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan penguatan dolar AS masih membebani, investor mulai lebih fokus pada risiko domestik.
"Pasar tidak hanya melihat prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai tingkat risiko yang harus ditanggung investor," ujar Hendra dalam keterangan resminya, Senin (8/6). Menurut dia, perhatian utama pasar kini tertuju pada kepastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
Hendra menyebut berbagai isu seperti prospek peringkat kredit, kebijakan fiskal, pengelolaan Danantara, hingga perubahan regulasi bermuara pada satu faktor: kepastian dan konsistensi kebijakan pemerintah. "Investor sebenarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan, dan tata kelolanya jelas," katanya.
Fenomena "Sell Indonesia" dan Respons Pasar
Fenomena yang belakangan dikenal sebagai "Sell Indonesia" ini, menurut Hendra, mencerminkan menurunnya keyakinan sebagian investor terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek. Pelemahan rupiah, koreksi tajam IHSG, dan arus keluar dana asing menjadi indikator bahwa investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan pagi ini mencapai 5,97 miliar saham dengan frekuensi 380,91 ribu kali. Nilai transaksi tercatat Rp 3,88 triliun, sementara kapitalisasi pasar terkoreksi menjadi Rp 9.524 triliun.
Meski tekanan jual masih deras, Hendra menegaskan fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat. Namun, pasar merespons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang, tata kelola aset negara, atau perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat.