LAMPUNG SELATAN — Para petani di Desa Hajimena, Lampung Selatan, mendapat bantuan teknologi pertanian presisi. Sistem penyiraman otomatis yang memanfaatkan sensor kelembapan tanah dan energi matahari itu dipasang di area kebun terong ungu milik KWT Anyelir, sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Ketua Tim Pengabdian, Dila Febria, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab keluhan para petani yang selama ini harus menyiram tanaman satu per satu secara manual. Dengan sistem ini, pompa air akan bekerja secara otomatis ketika sensor mendeteksi tanah mulai kering.
Sensor Kelembapan dan Panel Surya: Cara Kerja Sistem Irigasi Otomatis
Sistem yang dihadirkan tim dari Polinela dan Unila ini bekerja berdasarkan pembacaan sensor kelembapan tanah secara real-time. Ketika tingkat kelembapan turun di bawah batas optimal, pompa air langsung aktif menyiram tanaman. Sebaliknya, aliran air akan terhenti otomatis begitu kelembapan tanah kembali normal.
Seluruh perangkat ini digerakkan oleh listrik dari panel surya, sehingga tidak membebani biaya operasional kebun. Dila menambahkan, kombinasi IoT dan PLTS ini menghadirkan solusi yang mandiri energi dan ramah lingkungan bagi para petani.
"Dengan memadukan IoT dan PLTS, kami menghadirkan teknologi yang benar-benar mandiri energi dan ramah lingkungan. Anggota KWT Anyelir kini tidak perlu lagi menyiram secara manual satu per satu tanaman terong," kata Dila di Lampung Selatan, Senin.
Pelatihan Budi Daya Hingga Pendampingan Aplikasi Smartphone
Pemasangan perangkat bukan satu-satunya fokus program ini. Tim pengabdian juga memberikan pelatihan teknik budi daya tanaman terong serta pendampingan teknis pengoperasian sistem penyiraman melalui aplikasi di telepon pintar. Sebanyak 15 anggota KWT Anyelir terlibat langsung dalam proses instalasi dan praktik penerapan teknologi tersebut.
Ketua KWT Anyelir, Vera Nova, menyambut baik kehadiran teknologi energi terbarukan ini. Menurutnya, sistem irigasi otomatis ini membantu anggota kelompok menghemat waktu dan biaya operasional kebun secara signifikan.
"Kami sangat bersyukur dan terbantu. Selain penyiraman menjadi otomatis dan hemat waktu, ketersediaan daya dari panel surya membuat operasional penyiraman otomatis kebun terong ungu tidak membebani biaya listrik kami," ujar Vera.
Langkah Menuju Pertanian Cerdas dan Target Pengembangan ke Greenhouse
Kolaborasi Polinela dan Unila ini diharapkan dapat mendorong modernisasi pertanian di tingkat masyarakat melalui konsep pertanian cerdas yang efisien dan mandiri energi. Program ini sekaligus menjadi wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dalam memberikan solusi berbasis teknologi terhadap kebutuhan masyarakat.
Ke depan, Vera berharap inovasi serupa dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung kebutuhan irigasi di rumah kaca atau greenhouse milik KWT Anyelir. Hal itu akan memungkinkan kelompok tani untuk memperluas jenis komoditas yang dibudidayakan di luar terong ungu.