Pencarian

Dinkes Lampung Catat 885 Kasus Penyakit Terkait Abu Vulkanik Anak Krakatau dalam Sepekan

Kamis, 10 September 2026 • 12:43:02 WIB
Dinkes Lampung Catat 885 Kasus Penyakit Terkait Abu Vulkanik Anak Krakatau dalam Sepekan
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat 885 kasus penyakit tidak menular di 15 kabupaten dan kota pada periode 4-8 September 2026 akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat 885 kasus penyakit tidak menular di 15 kabupaten dan kota selama periode 4-8 September 2026 akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan difokuskan pada penyakit yang muncul dari paparan abu vulkanik, mulai dari asma hingga gangguan kulit. Tim surveilans dikerahkan ke lapangan untuk mempercepat deteksi dan penanganan.

BANDARLAMPUNG — Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memperkuat kegiatan surveilans penyakit untuk mengantisipasi potensi gangguan kesehatan masyarakat akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Pemantauan dilakukan tim di lapangan terhadap penyakit yang timbul dari paparan abu vulkanik.

"Kami terus melakukan pengamatan melalui kegiatan surveilans oleh tim di lapangan. Ini dilakukan untuk mengatasi serta mengantisipasi adanya potensi gangguan kesehatan akibat dampak erupsi seperti abu vulkanik," ujar Plt Kepala Dinkes Provinsi Lampung Djohan Lius di Bandarlampung, Rabu.

885 Kasus Tercatat dari 15 Kabupaten dan Kota

Berdasarkan pengamatan 4-8 September 2026, pemantauan situasi penyakit tidak menular dari laporan 15 kabupaten dan kota mencatat total 885 kasus. Rinciannya: asma 182 kasus, penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kudis 250 kasus, sakit mata 194 kasus, heat stroke 40 kasus, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) 219 kasus.

Kasus tertinggi terjadi pada Senin (7/9) untuk hampir semua kategori. Asma tercatat 63 kasus, penyakit kulit 70 kasus, sakit mata 60 kasus, heat stroke 20 kasus, dan PPOK 77 kasus dalam satu hari.

Dua Kelompok Penyakit yang Dipantau

Dinkes Lampung membagi penyakit terdampak erupsi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah penyakit yang berpotensi menular, seperti ISPA, Influenza Like Illness, serta radang paru-paru atau bronko pneumonia.

"Bahkan untuk mempercepat penanganan penyakit-penyakit ini telah dibagi menjadi dua kelompok yakni penyakit yang berpotensi terjadi penularan seperti ISPA, Influenza Like Illness, serta radang paru-paru atau bronko pneumonia," katanya.

Kelompok kedua adalah penyakit terdampak namun tidak berpotensi menular, meliputi asma, penyakit kulit, sakit mata, dan PPOK. Djohan menyebut kasus dari kelompok ini juga ditemukan dalam beberapa waktu terakhir.

Fluktuasi Harian Kasus Asma hingga PPOK

Data harian menunjukkan fluktuasi signifikan. Kasus asma bergerak dari 38 kasus pada Jumat (4/9), turun ke 29 kasus Sabtu (5/9), lalu anjlok ke 8 kasus Minggu (6/9), sebelum melonjak ke 63 kasus Senin (7/9) dan 44 kasus Selasa (8/9).

Pola serupa terlihat pada penyakit kulit. Setelah 56 kasus pada Jumat (4/9) dan 48 kasus Sabtu (5/9), angka turun tajam ke 4 kasus Minggu (6/9), kemudian naik ke 70 kasus Senin (7/9) dan 72 kasus Selasa (8/9).

Kasus sakit mata tercatat 46 kasus Jumat (4/9), 28 kasus Sabtu (5/9), 5 kasus Minggu (6/9), 60 kasus Senin (7/9), dan 55 kasus Selasa (8/9). Sementara heat stroke bergerak dari 5 kasus, 10 kasus, 1 kasus, 20 kasus, hingga 4 kasus pada periode yang sama.

Untuk PPOK, tercatat 50 kasus Jumat (4/9), 38 kasus Sabtu (5/9), 2 kasus Minggu (6/9), 77 kasus Senin (7/9), dan 52 kasus Selasa (8/9). Lonjakan di awal pekan konsisten terjadi di semua kategori penyakit.

Pemantauan Angka Kesakitan Berlanjut

Djohan menyatakan pihaknya terus memantau angka kesakitan untuk penyakit yang timbul akibat erupsi, termasuk ISPA dan iritasi mata. Surveilans oleh tim lapangan menjadi andalan untuk mendeteksi dini potensi gangguan kesehatan.

Data yang dihimpun dari 15 kabupaten dan kota menjadi dasar pemetaan wilayah terdampak. Dinkes Lampung belum merinci sebaran kasus per daerah maupun langkah intervensi lanjutan yang akan diambil.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lampung.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks