BANDAR LAMPUNG — Rata-rata pengeluaran warga Kota Bandar Lampung untuk makanan dan minuman jadi sepanjang tujuh tahun terakhir mencapai Rp 241.952 per kapita per bulan. Meski turun pada 2024, porsi belanja kategori ini masih mendominasi, menyumbang 61,6 persen dari total pengeluaran aneka barang dan jasa masyarakat. Angka ini bahkan dua kali lipat lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk rokok dan tembakau.
Kota Metro Tetap Juara, Pesisir Barat Catat Lonjakan Tertinggi
Secara provinsi, Kota Bandar Lampung hanya mampu menempati urutan kedua. Posisi pertama masih dipegang Kota Metro dengan pengeluaran Rp 258.636 per kapita per bulan untuk kategori yang sama. Sementara itu, Kabupaten Pesisir Barat mencatat pertumbuhan paling agresif dengan kenaikan 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya satu-satunya wilayah di Lampung yang menembus peringkat tiga besar secara total pengeluaran.
Total Belanja Warga Metro Tembus Rp 1,7 Juta Per Bulan
Kota Metro konsisten memimpin peringkat total pengeluaran per kapita di Provinsi Lampung dengan angka Rp 1.754.233 per bulan, naik 9,1 persen dari tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, pengeluaran untuk makanan saja mencapai Rp 833.733. Jarak nilai dengan Kota Bandar Lampung di peringkat kedua cukup jauh, menandakan daya beli masyarakat Metro yang lebih tinggi secara konsisten.
Lampung Selatan Terpuruk, Way Kanan Stagnan
Di sisi lain, beberapa wilayah justru mengalami penurunan. Kabupaten Lampung Selatan mencatat penurunan pengeluaran makanan dan minuman jadi sebesar 13,2 persen, tertinggi di provinsi. Kabupaten Lampung Timur juga turun 5,6 persen. Sementara Kabupaten Way Kanan hanya tumbuh tipis 3,1 persen pada kategori tersebut, meski secara total pengeluaran masih bertahan di urutan kelima se-Lampung.
Peringkat Nasional: Bandar Lampung di Urutan 104
Secara nasional, posisi Kota Bandar Lampung berada di urutan 104 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia untuk kategori pengeluaran makanan dan minuman jadi. Di Pulau Sumatera, kota ini menempati peringkat 26. Data ini menunjukkan bahwa meskipun secara lokal cukup tinggi, daya beli masyarakat Bandar Lampung masih kalah dibandingkan kota-kota besar lain di Sumatera seperti Medan, Palembang, atau Pekanbaru.
BPS mencatat tren pengeluaran makanan dan minuman jadi di Bandar Lampung sempat mencapai puncak pada tahun 2023 sebelum akhirnya turun tahun lalu. Pola naik-turun ini tidak menunjukkan tren kenaikan yang konsisten sepanjang data historis 2018 hingga 2024. Penurunan dua kali berturut-turut tercatat pada periode 2019 ke 2020 serta 2023 ke 2024.