JAKARTA — Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, mendorong pemerintah memperbaiki struktur ekonomi nasional sebagai fondasi penguatan nilai tukar rupiah. Ia menilai kebijakan moneter jangka pendek saja tidak cukup untuk menahan pelemahan yang terjadi dalam dua dekade terakhir.
Dalam diskusi Dialektika Demokrasi yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI, Kamrussamad memaparkan data depresiasi rupiah. Pada 2004, nilai tukar rupiah masih di kisaran Rp8.000 per dolar AS. Angka itu melemah menjadi Rp12.000 pada 2014, dan terus tertekan hingga menyentuh sekitar Rp15.000 per dolar AS pada akhir masa pemerintahan selanjutnya.
“Indonesia telah memilih rupiah sebagai mata uang nasional. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukarnya di tengah dinamika ekonomi global,” kata Kamrussamad.
Konsumsi Rumah Tangga Mendominasi 25 Tahun Terakhir
Menurut Kamrussamad, pelemahan rupiah tidak semata-mata akibat faktor eksternal. Ia menyoroti struktur ekonomi Indonesia yang selama sekitar 25 tahun terakhir masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.
Kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai perlu terus ditingkatkan. “Kalau industri manufaktur berkembang, maka penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat secara signifikan. Ini yang akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” ujarnya.
Hilirisasi dan Kawasan Ekonomi Khusus Jadi Andalan
Kamrussamad menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam, penguatan sektor energi, ketahanan pangan, pertanian, dan perikanan sudah berada di jalur yang tepat. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor Indonesia, sehingga kontribusi sektor produksi dan ekspor terhadap PDB bisa lebih besar.
Ia juga mengapresiasi pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dalam satu dekade terakhir. Berbagai insentif yang diberikan di kawasan tersebut dinilai telah membantu menarik investasi dan memperkuat industri manufaktur nasional.
Perluas Penggunaan Mata Uang Lokal dalam Perdagangan
Dalam menghadapi ketidakpastian global, Kamrussamad mendorong pemerintah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Skema kerja sama bilateral maupun regional dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan disebut sebagai peluang untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi ekspor-impor.
“Secara bertahap kita harus memperbesar penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu mata uang saja,” katanya.
Menurut politisi itu, kombinasi penguatan struktur ekonomi domestik, hilirisasi industri, peningkatan daya saing manufaktur, dan diversifikasi transaksi perdagangan internasional menjadi kunci agar rupiah lebih kuat. Dengan begitu, Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik di tengah gejolak global.