BANDARLAMPUNG — Dua kabupaten/kota di Lampung bahkan mencatat inflasi paling rendah se-Pulau Sumatera. Kepala BPS melalui Plh. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Pudji Ismartini, mengungkapkan Kota Bandar Lampung mencatat inflasi 1,79 persen, sementara Kabupaten Lampung Timur 1,88 persen secara year-on-year.
Apa Penyebab Inflasi Lampung Masih Terkendali?
Data BPS menunjukkan inflasi di Lampung masih di bawah angka nasional meskipun secara year to date (ytd) trennya cenderung meningkat. Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansah, menegaskan bahwa Pemprov tidak akan lengah.
"Alhamdulillah Lampung kondisinya aman, berada di bawah inflasi nasional. Walaupun secara year to date cenderung meningkat, hal ini perlu diantisipasi dengan melihat komoditas-komoditas penyebabnya sehingga langkah pengendalian dapat dilakukan secara tepat," ujar Yanyan dalam rakor yang digelar secara virtual, Senin (8/6/2026).
Komoditas Pemicu: Emas Perhiasan hingga Cabai Rawit
Secara nasional, BPS mencatat komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah emas perhiasan yang harganya melonjak 38,97 persen, dengan andil inflasi mencapai 0,63 persen. Di posisi kedua, beras mengalami inflasi 4,55 persen dan menyumbang 0,18 persen terhadap inflasi nasional.
Komoditas lain yang turut mendorong kenaikan harga antara lain daging ayam ras, tarif angkutan udara, minyak goreng, dan sejumlah bahan pokok lainnya. Sementara itu, data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) hingga 5 Juni 2026 mencatat 34 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Komoditas utama pemicunya adalah cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.
Instruksi Kemendagri: Pemda Harus Paham Cara Hitung Inflasi
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, memberikan instruksi tegas kepada seluruh pemerintah daerah yang masih memiliki tingkat inflasi tinggi. Ia meminta agar dinas terkait berkoordinasi langsung dengan BPS untuk memahami faktor penyebab sekaligus menyusun strategi pengendalian yang lebih efektif.
“Kalau umpamanya belum memahami cara perhitungannya dan bagaimana mengatasinya, supaya lebih efektif kami minta teman-teman dinas terkait untuk mengundang BPS, jelaskan secara rinci kemudian bersama-sama mengambil jalan keluarnya. Kalau memang bisa melakukan langkah-langkah dan gerakan yang diperlukan sebisanya, jangan tidak berbuat,” tegas Tomsi.
Langkah Antisipatif Pemprov Lampung ke Depan
Menanggapi arahan tersebut, Yanyan Ruchyansah menegaskan bahwa Pemprov Lampung akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, dan para pemangku kepentingan. Fokus utama adalah menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui pemantauan ketat terhadap komoditas yang berpotensi memicu lonjakan inflasi.
"Langkah pengendalian harus dilakukan secara tepat dengan melihat komoditas penyebabnya," ujarnya. Komitmen ini diambil untuk memastikan pertumbuhan ekonomi daerah tetap terjaga di tengah tekanan harga nasional yang masih tinggi.