LAMPUNG — Keluarga besar Sri Rahayu di Kebumen belum bisa menutup kisah duka ini dengan layak. Mereka menunggu kepastian pemulangan jenazah dari otoritas Jepang dan peran aktif pemerintah Indonesia melalui dinas terkait. "Keinginan keluarga agar jenazah bisa dipulangkan. Kami memohon ke pemerintah melalui dinas terkait," ujar Dwi Supriani, saudara korban sekaligus Sekretaris Desa Tlogosari, Rabu (10/6/2026).
Insiden berdarah itu terjadi sekitar pukul 21.10 hingga 21.15 waktu setempat di sebuah jalan sekitar dua kilometer barat laut Stasiun JR Chitose. Layanan darurat Hokkaido menerima laporan dari seorang pejalan kaki yang melihat seorang pria membawa pisau dapur di area trotoar.
Polisi Chitose dan Kepolisian Hokkaido yang tiba di lokasi menemukan Sri Rahayu dalam kondisi bersimbah darah dengan sejumlah luka tusuk, salah satunya di bagian perut. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis, namun nyawanya tidak tertolong sesaat setelah tiba di fasilitas kesehatan.
Petugas mengamankan seorang pria WNI di tempat kejadian. Terduga pelaku, Mahmudi Agung Laksana Aji (27), seorang pekerja paruh waktu yang berdomisili di Prefektur Chiba. Dalam proses penangkapan, seorang petugas kepolisian dan rekan korban yang berusaha meredakan situasi dilaporkan mengalami luka ringan. Aparat juga menyita sebilah pisau dapur sebagai barang bukti.
Keluarga mengaku sempat mendapat informasi simpang siur soal pelaku. "Informasi pertama ditusuk orang tak dikenal, setelah beberapa hari ternyata mantan pacarnya," kata Dwi Supriani. Kepolisian Jepang menyatakan korban dan terduga pelaku diduga saling mengenal. Hingga kini, penyidik masih mendalami motif di balik insiden tersebut.
Sri Rahayu diketahui sudah bekerja di Jepang selama sekitar dua tahun di bidang peternakan dan pertanian. Ia merupakan anak pertama pasangan Suratin dan Siti Wahyuni. Kini, keluarga hanya bisa berharap proses hukum berjalan adil. "Pelaku agar dihukum berat dan korban mendapat keadilan," ucap Dwi.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan perlindungan pekerja migran Indonesia di luar negeri. Keluarga di Kebumen berharap Sri Rahayu segera dipulangkan ke tanah air untuk dimakamkan di kampung halaman. Mereka meminta agar proses pemulangan jenazah tidak mengalami hambatan birokrasi, baik dari pihak Jepang maupun perwakilan Indonesia. Dukungan dari Kementerian Luar Negeri dan BP2MI dinilai krusial untuk mempercepat pengurusan dokumen dan transportasi jenazah dari Hokkaido ke Jawa Tengah.