Menkeu Purbaya Sebut Pedagang Tahu Tempe Mulai Tergerus Imbas Pelemahan Rupiah, Pemerintah Perkuat Koordinasi dengan BI

Penulis: Surya Dinata  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:38:31 WIB
Menkeu Purbaya menyatakan pelemahan rupiah memengaruhi keuntungan pedagang tahu tempe.

LAMPUNG — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendapat informasi bahwa para perajin dan pedagang tahu tempe di Indonesia sudah mulai kehilangan margin keuntungan akibat lonjakan biaya produksi. Ia menyebutkan bahwa tekanan ini muncul karena sebagian besar bahan baku kedelai yang digunakan masih bergantung pada impor.

“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan-bahannya masih diimpor,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurut dia, kondisi ini merupakan efek berantai dari pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya produksi secara langsung. “Yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka,” katanya.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Usaha Kecil

Pernyataan Menkeu itu menyoroti bagaimana gejolak nilai tukar tidak hanya berdampak pada korporasi besar, tetapi juga langsung dirasakan oleh usaha mikro dan kecil. Pedagang tahu tempe, yang umumnya memiliki modal terbatas, menjadi pihak paling rentan karena sulit menyerap kenaikan harga bahan baku tanpa menaikkan harga jual.

Purbaya menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Ia menilai hal ini penting karena dampaknya langsung terasa pada biaya hidup masyarakat dan kelangsungan usaha kecil.

Pemerintah Sinkronkan Kebijakan Fiskal dan Moneter

Untuk mengatasi tekanan tersebut, pemerintah berencana meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Bank Indonesia. Purbaya menyebut bahwa sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter harus diperkuat agar dampaknya lebih signifikan terhadap perekonomian.

“Kami akan mendukung bank sentral untuk memperkuat koordinasi supaya kebijakan makin sinkron. Supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal juga lebih signifikan ke perekonomian,” tuturnya.

Ia optimistis, jika koordinasi sudah berjalan penuh, nilai tukar rupiah akan meningkat secara signifikan dan tidak akan melemah lagi. “Tentu kalau kebijakan sudah menyatu sinergi penuh, itu harusnya rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi, yang penting adalah kami melihat dampak ke masyarakat positif,” tambah dia.

Harapan Stabilitas Harga bagi Ibu Rumah Tangga

Purbaya berharap upaya stabilisasi rupiah dapat meredam tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga. Dengan nilai tukar yang lebih stabil, ia meyakini harga bahan pokok seperti tahu dan tempe bisa kembali terjangkau.

“Kami akan melihat rupiah lebih stabil, sehingga pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga lebih baik,” imbuhnya.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran publik atas daya beli yang menurun akibat fluktuasi rupiah. Pemerintah dan BI diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menahan pelemahan lebih lanjut.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top