LAMPUNG — Maroko tiba di Amerika Utara dengan status berbeda dibanding edisi sebelumnya. Bukan lagi kuda hitam, melainkan tim peringkat delapan dunia yang dituntut membuktikan konsistensi. Beban ekspektasi itu kian berat setelah skandal final Piala Afrika (Afcon) 2025 yang berujung pada keputusan kontroversial Federasi Sepak Bola Afrika (Caf).
Januari lalu, Maroko secara resmi dinyatakan sebagai juara Afcon setelah Senegal menarik diri dari lapangan sebagai protes terhadap penalti kontroversial yang diberikan wasit untuk Maroko. Eksekusi Brahim Díaz yang gagal dalam bentuk Panenka membuat Senegal unggul 1-0, namun dua bulan kemudian Caf membalikkan keputusan dan menganugerahkan gelar kepada Maroko.
Senegal kini mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Ouahbi mengakui insiden itu sebagai trauma kolektif. "Kami semua mengalami trauma sebagai warga Maroko. Final itu momen sulit, tapi yang terpenting adalah keberlanjutan," ujarnya saat diperkenalkan sebagai pelatih kepala pada Maret 2026.
Pria kelahiran Brussel ini bukan nama asing di akademi Eropa. Sebelum menangani timnas senior, Ouahbi menghabiskan 17 tahun di akademi Anderlecht dan membawa Timnas U-20 Maroko juara Piala Dunia U-20 di Chile pada 2025. Formasi 4-2-3-1 yang fleksibel menjadi 4-2-2-2 menjadi andalannya untuk membuka ruang bagi kapten Achraf Hakimi di sisi kanan.
Dua laga uji coba perdananya melawan tim Amerika Selatan menunjukkan progres. Maroko bermain imbang 1-1 dengan Ekuador lalu menang 2-1 atas Paraguay. "Saya sadar akan ekspektasi, tapi ini kehormatan besar," kata Ouahbi. "Saya berkomitmen bekerja dengan keseriusan, kerendahan hati, dan determinasi."
Achraf Hakimi tetap menjadi magnet utama skuad. Pemain yang pernah membela Real Madrid, Borussia Dortmund, Inter Milan, dan Paris Saint-Germain ini baru saja memenangi Liga Champions 2025 bersama PSG. Namun, ia juga menghadapi masalah hukum serius setelah muncul tuduhan pemerkosaan terhadapnya pada Februari 2026. Hakimi membantah tuduhan tersebut dan kasusnya akan disidangkan.
Satu nama yang patut diwaspadai adalah Neil El Aynaoui. Gelandang serbabisa putra legenda tenis Younes El Aynaoui ini baru bergabung dengan timnas pada September 2025, namun langsung menjadi pemain kunci. Setelah pindah dari Lens ke AS Roma pada musim panas 2025, ia awalnya diragukan penggemar, tetapi perlahan menjelma sebagai motor permainan. "Jika Maroko ingin sukses di Amerika Utara, El Aynaoui akan menjadi bagian penting dari teka-teki," tulis laporan Guardian.
Di sisi lain, Noussair Mazraoui menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bek Manchester United yang mampu bermain di enam posisi berbeda ini berperan sebagai bek kiri sekaligus bek tengah ketiga saat Hakimi menyerang. Ia juga menjadi pemimpin lapangan saat sang kapten absen.