Industri Tiket Konser Dikecam Musisi The All American Rejects, Harga Dinilai Makin Eksklusif untuk Orang Kaya

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 16:59:45 WIB
The All American Rejects mengkritik harga tiket konser yang semakin eksklusif untuk kalangan kaya.

LAMPUNG — Kritik terhadap praktik kapitalisasi di industri pertunjukan musik kembali mengemuka. Kali ini, giliran The All American Rejects yang angkat bicara secara blak-blakan. Band yang baru saja merilis album penuh setelah vakum selama 14 tahun itu menilai sistem tiket konser saat ini telah mengkhianati esensi seni dan basis penggemar setia.

“Seni Telah Dimodifikasi demi Keuntungan”

Dalam sebuah wawancara, vokalis Tyson Ritter dan gitaris Nick Wheeler menyoroti bagaimana industri musik modern memandang penggemar sebagai komoditas. “Kami sedang berbicara tentang seni di sini. Kenyataan bahwa Anda dapat memodifikasi penggemar Anda, itulah permainan industri sekarang,” ujar Ritter.

Ia menambahkan bahwa mereka yang paling membutuhkan musik justru berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. “Ini telah menjadi pengalaman bagi kaum satu persen teratas, dan menurut saya itu sangat kacau. Karena orang-orang yang paling mencintai musik adalah orang-orang yang hidupnya pas-pasan, orang-orang yang datang dari tempat asal kami,” lanjut sang vokalis.

Tur Mandiri ke Pesta Rumah dan Arena Boling

Sebagai bentuk protes, The All American Rejects sempat menggelar tur independen tanpa melibatkan promotor raksasa. Mereka memilih tampil di area-area intim seperti pesta rumah, arena boling, hingga lumbung padi. Langkah ini diambil untuk menghadirkan pengalaman konser yang ramah di kantong penggemar, meskipun salah satu aksi panggung tersebut sempat dibubarkan oleh polisi setempat.

Wheeler juga menyoroti ironi yang terjadi secara global. Menurutnya, biaya perjalanan ke luar negeri untuk menonton band favorit kini terasa lebih murah dibandingkan membeli tiket di kota sendiri. “Bagaimana bisa biaya pergi ke luar negeri untuk melihat band favoritmu menjadi lebih murah daripada sekadar melihat mereka di kotamu sendiri?” ujar Wheeler.

Tanggung Jawab Musisi dan Desakan Regulasi Inggris

Wheeler menekankan bahwa kini tanggung jawab berada di pundak para musisi papan atas. “Penggemar berhak mempertanyakan, ‘Apakah artis favorit saya perlu menghasilkan 75 juta dolar AS musim panas ini? Atau bisakah mereka menghasilkan 30 juta dolar AS saja? Apakah uang itu sudah cukup bagi Anda?’” imbuhnya.

Kondisi ini sebelumnya telah mendorong Pemerintah Inggris menyusun rancangan undang-undang untuk membatasi praktik calo tiket dan kebijakan harga dinamis. Namun, regulasi tersebut dinilai berjalan lamban dan baru sebatas draf. Gelombang protes pun muncul, termasuk surat terbuka dari manajemen musisi besar seperti Radiohead, Arctic Monkeys, Ed Sheeran, hingga Dua Lipa yang mendesak realisasi janji tersebut demi melindungi hak-hak pecinta musik.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top