Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyatakan pembangunan bioethanol development center di Masgar, Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, menjadi upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional. Fasilitas ini dibangun di atas lahan 10 hektare dari target 20 hektare, dengan tiga agenda sekaligus: penandatanganan nota kesepahaman, penanaman simbolis sorgum, dan pembangunan pabrik. Lampung menargetkan kapasitas 430 ribu kiloliter bioetanol sebagai basis pengembangan energi terbarukan.
BANDARLAMPUNG — Pemerintah menempatkan Lampung sebagai pusat pengembangan bioetanol nasional melalui pembangunan bioethanol development center di Masgar, Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan Astacita Presiden.
Peluncuran pusat pengembangan tersebut ditandai dengan tiga kegiatan yang dimulai sekaligus. Pertama, penandatanganan nota kesepahaman para pihak. Kedua, penanaman simbolis sorgum. Ketiga, pembangunan pabrik seluas 10 hektare dari target 20 hektare di Tegineneng, Pesawaran.
Mengapa Sorgum Jadi Bahan Baku Unggulan
Todotua menyebut sorgum sebagai komoditas yang layak dikembangkan karena efisien secara ekonomi. Ia merujuk pada hasil riset dan industri otomotif di Jepang yang menempatkan sorgum sebagai bahan baku unggulan.
"Berbagai riset dan otomotif menyebutkan di Jepang, sorgum ini jadi bahan baku yang unggul sekali dan sangat ekonomis, sehingga saya langsung ke lokasi meninjaunya," ujar Todotua dalam keterangan yang diterima di Bandarlampung, Senin.
Pemerintah akan mendorong pengembangan sorgum sebagai salah satu bahan baku bioetanol agar segera diterapkan di Indonesia. Riset di Lampung dinilai sudah bisa dikembangkan sejak awal.
Konsumsi Bensin 36 Juta Kiloliter Jadi Dasar Perhitungan
Menurut Todotua, kebutuhan pengembangan etanol sangat mendesak karena penggunaan bensin nasional mencapai 36 juta kiloliter per tahun. Angka itu menjadi basis utama pertimbangan pengembangan bioetanol di dalam negeri.
"Ternyata, sejak awal riset di Lampung ini bisa dikembangkan. Dan basis utama yang jadi perimbangan pengembangan ini adalah saat ini penggunaan bensin nasional sebanyak 36 juta kilo liter per tahun, jadi sudah sangat diperlukan pengembangan etanol," katanya.
Indonesia disebut sebagai penghasil crude palm oil dengan luas sawit terbesar di dunia. Kondisi itu, menurut Todotua, memberi potensi besar bagi pengembangan bioetanol maupun solar B50.
Ekosistem yang Menyatukan Pertanian hingga Investasi
Pengembangan bioetanol diarahkan membentuk ekosistem yang mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.
Lampung memiliki kapasitas 430 ribu KL dengan strategi utama reaktivitas dan sinergi bersama PTPN. Pengembangan mencakup sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pilot bioethanol development center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung, serta konversi pabrik.
"Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivitas, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G), dan generasi kedua (2G), pilot bioethanol development center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung serta konversi pabrik maka bisa mendukung ketahanan energi," ujar dia.
Kolaborasi Lintas Institusi
Peluncuran bioethanol development center di Lampung merupakan tindak lanjut dari penandatanganan joint declaration in establishing bioetanol ecosystem development in Lampung Province. Kegiatan ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI), serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Pemerintah menilai bahan baku dan sumber daya pengembangan bioetanol sangat berlimpah. Peran institusi terkait diperlukan untuk mengelola dan memberdayakan potensi tersebut.