Pencarian

Haji Mukhlisin, Lurah Pertama Kampung Baru dan Saksi Pembebasan Lahan Kampus Unila Rp175 per Meter

Kamis, 17 September 2026 • 21:31:01 WIB
Haji Mukhlisin, Lurah Pertama Kampung Baru dan Saksi Pembebasan Lahan Kampus Unila Rp175 per Meter

BANDAR LAMPUNG — Nama Haji Mukhlisin jarang disebut dalam buku-buku sejarah Universitas Lampung. Namun bagi warga Kampung Baru, ia adalah lurah pertama yang mengurus langsung proses pembebasan lahan ketika kampus itu mulai dibangun pada 1974.

Kampung Baru saat itu hanya dihuni sekitar 13 kepala keluarga. Sebagian besar pendatang dari Cilegon, Banten, yang bekerja sebagai pembuat gula kelapa. Kebun kopi dan kelapa masih mendominasi kawasan yang kini menjadi Kampus Unila.

Saksi Pembebasan Lahan Rp175 per Meter Persegi

Wilayah yang menjadi Kampus Unila ketika itu terbagi dalam dua administrasi: Kelurahan Gedung Meneng dan Kelurahan Kampung Baru. Batasnya kurang lebih berada di sekitar pos satpam kawasan bundaran Unila yang dikenal sekarang.

Dari titik itu ke arah depan, termasuk Gang Kopi dan kolam renang Unila, merupakan tanah masyarakat Gedung Meneng. Ke arah belakang menuju permukiman Kampung Baru merupakan tanah milik warga Kampung Baru.

Di antara pemilik tanah yang cukup luas adalah Bapak Santari dengan sekitar tiga hektare dan Bapak Rasmin dengan sekitar satu hektare. Haji Mukhlisin mengurus proses administrasi dan ganti rugi tanah warga.

Menurut kesaksiannya, harga pembebasan lahan saat itu sekitar Rp175 per meter persegi. Angka itu terasa kecil dibandingkan harga tanah sekarang, tetapi perubahan yang terjadi setelahnya jauh lebih besar.

Hubungan dengan Rektor Sitanala Arsyad

Sebagai lurah, Haji Mukhlisin berhubungan erat dengan Prof. Sitanala Arsyad, Rektor Universitas Lampung ketika itu. Ia juga berkomunikasi dengan Drs. Achmad Fabil, ketua tim pembebasan lahan dari pihak Unila.

Posisinya sebagai penghubung antara masyarakat dan pihak pembangun kampus membuatnya mengetahui kondisi wilayah sekaligus mengenal warganya satu per satu. Ia berada di lapangan saat proses pembebasan berlangsung.

Kos Pertama di Lingkungan Unila dan Empat Mahasiswa Awal

Prof. Admi Syarif, dosen Unila dan penulis buku "50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri", mengenal Haji Mukhlisin pada awal 2006. Pertemuan bermula dari urusan sederhana: mencari tempat kos yang dijual di kawasan Kampung Baru.

Haji Mukhlisin membantu mencarikan tempat tersebut. Kos yang kemudian didapatkan Prof. Admi kini bernama Yokohama Dorm, bersebelahan dengan kos milik Haji Mukhlisin. Kos satu lantai berwarna biru itu menjadi saksi pertama kali ada kos-kosan di lingkungan Unila.

Dari perbincangan itu, Prof. Admi mendengar cerita tentang empat orang mahasiswa pertama yang kos di tempat Haji Mukhlisin. Ia memanggil Haji Mukhlisin dengan sebutan Abah.

"Saat itu saya belum menyadari bahwa pertemuan tersebut akan membawa saya mengenal begitu banyak cerita tentang sejarah Kampung Baru dan Universitas Lampung," kata Prof. Admi dalam tulisannya.

Pesan untuk Unila: Jangan Lupakan Warga Kampung Baru

Haji Mukhlisin menyimpan satu pesan yang ingin disampaikan kepada pihak Unila. Prof. Admi mengingat betul pesan itu.

"Jangan lupakan warga Kampung Baru," tulis Prof. Admi mengutip pesan Abah.

Jika warga tidak bisa menjadi mahasiswa, Haji Mukhlisin berharap mereka diberi kesempatan bekerja. Menjadi satpam, petugas kebersihan, atau pekerjaan lain yang bisa mereka lakukan.

Haji Mukhlisin kini telah almarhum. Cerita tentangnya tetap hidup melalui kesaksian yang dikumpulkan Prof. Admi, termasuk kenangan saat ngopi bersama dan membicarakan jalan yang dulu membelah STM dan bundaran air mancur.

Universitas Lampung memasuki usia ke-61 pada 23 September 2026. Sejarah kampus itu tidak hanya tentang rektor, gedung, dan dosen, tetapi juga tentang warga yang tanahnya menjadi bagian dari kampus dan kampung yang ekonominya tumbuh karena universitas.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voxlampung.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks