BANDAR LAMPUNG — Pemandangan antrean panjang truk di bahu Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Panjang, dan Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Bumi Waras, kini menjadi pemandangan pagi yang lumrah. Ratusan sopir rela memarkir kendaraan mereka sejak pukul 06.00 WIB demi mengisi Biosolar bersubsidi.
Tak jarang, antrean baru bergerak setelah berjam-jam. Sebagian sopir mematikan mesin dan turun dari kabin untuk sekadar melepas penat, menyeruput kopi, atau kembali memejamkan mata. Namun, waktu yang terbuang tetap menjadi masalah utama.
10 Jam Mengantre, Perjalanan ke Jakarta Tertunda
"Kalau lagi antre begini, bisa selesai jam 12 siang. Kadang sampai jam empat sore baru dapat giliran," ujar Saiful Bahri (35), sopir truk asal Baradatu, Way Kanan, kepada Kompas.com, Rabu (15/7/2026).
Artinya, hampir satu hari kerja habis hanya untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar. Padahal, setelah keluar dari SPBU, perjalanan panjang masih menanti. Saiful mengangkut sagu dengan rute Lampung-Jakarta.
Jatah 140 Liter: Tak Penuh, Tak Cukup
Ironisnya, solar yang diperoleh pun belum mampu memenuhi kebutuhan operasional truknya. "Jatah saya cuma sekitar 140 liter. Itu belum penuh, belum cukup juga buat operasional," kata Saiful.
Belum penuhnya tangki memaksa para sopir harus kembali mengantre dalam waktu dekat, atau mencari SPBU lain yang mungkin memiliki sisa kuota. Situasi ini memperparah kerugian waktu dan biaya operasional yang sudah membengkak.
Aspal Rusak dan Lalin Tersendat Akibat Antrean Truk
Antrean yang mengular hingga hampir satu kilometer tak hanya merugikan sopir. Bahu jalan berubah menjadi tempat parkir dadakan, sementara lajur lalu lintas menyempit dan memaksa kendaraan lain bergantian melintas. Aspal di sekitar lokasi pun mulai rusak karena setiap hari menahan beban puluhan truk bertonase besar.
Personel Satlantas Polresta Bandar Lampung beberapa waktu lalu bahkan sempat menegur para sopir agar antrean tidak semakin mengganggu pengguna jalan. Namun, hingga kini, antrean masih terus terjadi.
Akar Masalah: Distribusi Biosolar Tak Seimbang?
Belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina atau pemerintah daerah terkait penyebab kelangkaan atau antrean panjang ini. Namun, para sopir menduga ada ketidakseimbangan antara kuota yang dialokasikan dengan jumlah kendaraan berat yang beroperasi di Bandar Lampung.
Jika tidak segera diatasi, antrean solar ini diperkirakan akan terus berulang dan berpotensi mengganggu distribusi logistik dari dan menuju Lampung. Para sopir berharap ada solusi konkret, baik dari penambahan pasokan maupun pengaturan sistem antrean yang lebih efisien.