LAMPUNG — Musim 2026 menjadi tahun penentuan bagi Emma Felbermayr di ajang F1 Academy. Mengingat regulasi membatasi partisipasi maksimal dua musim, ia harus memanfaatkan sisa lima seri ke depan untuk merebut gelar juara. Dua balapan di Zandvoort, tiga di Austin, dan dua seri pamungkas di Las Vegas menjadi medan tempurnya.
"Tahun lalu saya merasa agak tersesat. Semua terasa baru dan saya tidak siap," ungkap Felbermayr kepada The Drive saat ditemui di Grand Prix Kanada. "Musim dingin lalu kami bekerja keras. Sekarang saya jauh lebih percaya diri dengan tim," tambahnya.
Lompatan dari Balap Nasional ke Panggung Global
Perjalanan Felbermayr dimulai sejak usia tujuh tahun, mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu menggeber gokar. Namun, ia baru memulai balap internasional di usia 13 tahun—terbilang telat dibandingkan rival-rivalnya yang sudah memulai sejak 8-10 tahun. "Itu tantangan terbesar. Saya harus mengejar ketertinggalan dalam waktu singkat," kenangnya.
Lompatan dari gokar ke F1 Academy juga bukan perkara mudah. Menurut Felbermayr, tekanan dan perhatian publik menjadi hal yang paling sulit diadaptasi. "Di gokar, tidak banyak yang memperhatikan Anda. Sekarang, semua mata tertuju pada kami," jelasnya. Ia juga menjalani program ganda dengan turun di ajang Italian Formula 4 secara bersamaan.
Rutinitas Fisik dan Mental ala Pembalap Profesional
Untuk menjaga performa di level tertinggi, Felbermayr menjalani latihan gym setiap hari dengan jadwal kardio dan latihan kekuatan yang terstruktur. Dukungan penuh dari Audi mencakup fisioterapis, panduan nutrisi, hingga elektrolit khusus sebelum balapan. Ia juga mengaku belajar keras mengatasi jet lag karena jadwal balapan yang padat antar benua.
"Saya juga kuliah, jadi semua harus seimbang. Tapi saya selalu berusaha membuat semuanya terasa menyenangkan. Kalau tidak seru, hasilnya tidak akan maksimal," ucapnya. Setelah akhir pekan yang melelahkan, cara Felbermayr melepas penat terbilang sederhana: bertemu teman, makan malam, atau maraton film di Netflix.
F1 Test: Target atau Sekadar Bonus?
Melihat rekan setimnya di musim lalu, Doriane Pin, mendapatkan kesempatan tes mobil F1 dari Mercedes setelah menjadi juara, Felbermayr tetap tenang. Menurutnya, lompatan langsung dari F4 ke F1 terlalu besar mengingat perbedaan downforce yang signifikan. "Fokus saya sekarang adalah melakukan yang terbaik di setiap balapan. Saya tidak terburu-buru memikirkan langkah selanjutnya," tegasnya.
Felbermayr kembali menegaskan bahwa ia adalah "buku terbuka" yang siap memanfaatkan setiap peluang. Dengan dukungan ayah dan kakeknya yang merupakan pembalap Le Mans, serta bimbingan langsung dari bos F1 Academy, Susie Wolff, masa depannya di dunia balap profesional tampak cerah.