Pencarian

Konflik Gajah-Manusia di Lampung Barat Tewaskan Petani, Habitat Tersisa Dorong Satwa Liar Masuk Pemukiman

Jumat, 03 Juli 2026 • 16:55:01 WIB
Konflik Gajah-Manusia di Lampung Barat Tewaskan Petani, Habitat Tersisa Dorong Satwa Liar Masuk Pemukiman
Kawanan gajah liar merusak pondok dan menewaskan petani di Lampung Barat.

LAMPUNG BARAT — Kawanan gajah liar menghancurkan sebuah pondok di kawasan hutan TNBBS, Lampung Barat, dan menewaskan seorang petani yang tengah berada di dalamnya. Peristiwa tersebut terjadi saat kawanan gajah melintasi jalur tradisional yang sejak lama menjadi rute migrasi mereka. Petugas TNBBS menyebut korban diduga tewas setelah pondok yang ditempatinya dikepung dan dirobohkan oleh satwa tersebut.

Menurut catatan petugas, sosialisasi larangan mendirikan pondok di zona inti taman nasional telah berulang kali dilakukan. Namun, aktivitas berkebun di lahan konservasi masih marak dilakukan warga yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian di sekitar kawasan hutan.

Kebun Sawit dan Pisang Jadi Daya Tarik Utama Gajah

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa gajah sangat menyukai tanaman pertanian seperti kelapa sawit, padi, dan pisang. Tanaman-tanaman ini menyediakan nutrisi yang mudah didapat dibandingkan sumber pakan alami yang kian terbatas di habitatnya.

“Kawanan gajah biasanya mendekati atau menyerang area manusia terutama karena menyusutnya atau terfragmentasinya habitat alami mereka. Hal ini memaksa mereka mencari sumber pakan dan air yang ada di wilayah yang kini dihuni manusia,” ungkap Wisnu, Jumat (3/7).

Jalur Migrasi Turun-Temurun Terblokir Bangunan

Wisnu menambahkan bahwa setiap kawanan gajah memiliki rute jelajah yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika jalur tersebut terhalang oleh permukiman, jalan, atau bangunan lain, gajah tetap akan berusaha melintas karena insting alaminya. “Jika jalur tradisional mereka terblokir oleh jalan atau bangunan, maka mereka akan menerobos wilayah tersebut,” ujarnya.

Hal inilah yang membuat pondok-pondok yang berdiri di lintasan gajah menjadi sasaran perobohan. Saat kawanan melintas, bangunan yang menghalangi akan dihancurkan, dan orang di dalamnya berisiko mengalami serangan fatal.

Agresi Gajah Bukan Tanpa Sebab, Warga Diminta Jaga Jarak

Menurut Wisnu, perilaku agresif gajah umumnya merupakan respons defensif, bukan serangan tanpa alasan. Gajah akan menyerang jika merasa terancam, terutama saat melindungi anaknya. Upaya pengusiran dengan kekerasan, suara bising, atau lemparan benda justru memicu kepanikan dan meningkatkan risiko serangan.

“Yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak panik karena gajah memiliki pendengaran dan penciuman yang tajam, kepanikan atau teriakan justru dapat memicu respons defensif mereka,” tuturnya.

Wisnu merekomendasikan warga yang bertemu kawanan gajah untuk menjaga jarak minimal 50 meter, berlindung di balik pohon besar, dan bergerak melawan arah angin agar aroma manusia tidak terdeteksi.

Penegakan Aturan Zona Inti Jadi Kunci

Wisnu menegaskan pentingnya penegakan aturan yang melarang pembukaan lahan, aktivitas berkebun, dan pembangunan pondok di zona inti hutan konservasi. Langkah ini menjadi kunci untuk menjaga habitat alami gajah sekaligus mengurangi risiko konflik dengan manusia.

“Dengan adanya ruang gerak yang menyempit dapat meningkatkan konflik yang tinggi,” ungkapnya, merujuk pada krisis ekologis akibat deforestasi dan fragmentasi habitat yang mengancam kelestarian populasi gajah Sumatera.

Bagikan
Sumber: ugm.ac.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks