LAMPUNG — Kepulangan Skotlandia dari Piala Dunia kali ini terasa sangat pahit. Bukan hanya karena gagal lolos dari fase grup setelah absen 28 tahun dari turnamen pria, tetapi juga karena semua fasilitas dan persiapan kelas dunia yang diberikan kepada para pemain tak mampu mendongkrak performa di lapangan. Kekalahan di babak penyisihan grup memaksa pelatih Steve Clarke untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Fasilitas Bintang Lima, Hasil Nol Besar
Apa yang sebenarnya salah? Sejak keberangkatan dari Glasgow Airport, para pemain dimanjakan dengan berbagai kemewahan. Mereka berlatih di Florida Blue training centre milik Inter Miami, pusat latihan senilai 60 juta dolar AS yang biasa digunakan Lionel Messi. Fasilitas ini bahkan didapatkan berkat bantuan Sir Alex Ferguson yang menelepon langsung Sir David Beckham.
Di markas utama mereka di Charlotte, North Carolina, tim menggunakan Atrium Health Performance Park seluas 52.000 kaki persegi—fasilitas yang sebelumnya dipakai Real Madrid dan Inter Milan. Ruang terapi lampu merah hingga ruang ketinggian (altitude room) tersedia lengkap. "Mereka memberi kami semua yang kami minta," aku Clarke saat itu.
Dari Permintaan Pemain hingga Waktu Libur
Asisten pelatih Steven Naismith mengungkapkan bahwa tim pelatih benar-benar mendengarkan keluhan pemain. Mereka meminta kamp pelatihan yang lebih panjang, waktu adaptasi yang cukup, dan waktu luang untuk bersantai. Semua permintaan itu dipenuhi. Pemain bisa bersepeda di sekitar hotel pantai mewah, bermain golf di PGA National, dan berjalan-jalan di pusat kota Boston serta Miami untuk menikmati atmosfer pesta bersama Tartan Army.
Bahkan, keluarga dan teman-teman pemain diterbangkan ke kamp pelatihan dan kota pertandingan. John McGinn, misalnya, sempat mengatur pertemuan keponakannya dengan bintang Prancis Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele.
Kontras antara Persiapan dan Hasil Akhir
Total hampir tujuh ton perlengkapan tim dikirim ke Miami seminggu sebelum skuad tiba—mulai dari perlengkapan bermain, pakaian kasual, hingga puluhan kotak sepatu dengan logo Piala Dunia. Namun, semua persiapan matang itu berakhir dengan keheningan dari kubu Skotlandia. "Kami di sini lagi, dengan harapan yang hancur, tumpukan pertanyaan, dan kebisuan dari kamp Skotlandia," demikian bunyi laporan dari jurnalis yang meliput langsung.
Kegagalan ini menjadi ironi besar: sebuah tim yang dipersiapkan secara berlebihan, dilindungi dari segala gangguan, dan dipoles dengan fasilitas terbaik, justru tampil tanpa daya saat pertandingan sesungguhnya dimulai. Kini, Skotlandia harus memulai dari awal lagi—tanpa Clarke, tanpa kemewahan, dan dengan banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi.