Pencarian

Universitas Bandar Lampung Dorong Provinsi Jadi Pelopor Talent Matching Ecosystem, Ini 4 Tahapannya

Selasa, 23 Juni 2026 • 13:29:32 WIB
Universitas Bandar Lampung Dorong Provinsi Jadi Pelopor Talent Matching Ecosystem, Ini 4 Tahapannya
Universitas Bandar Lampung menginisiasi Lampung sebagai pelopor Talent Matching Ecosystem di Indonesia.

BANDAR LAMPUNG — Universitas Bandar Lampung (UBL) menggagas Lampung sebagai provinsi perintis penerapan Talent Matching Ecosystem di Indonesia. Sistem ini tak sekadar menyelaraskan kurikulum dengan industri, tetapi juga memetakan bakat dan minat siswa sejak bangku sekolah menengah.

Rektor UBL M Yusuf S Barusman menjelaskan, pendidikan nasional saat ini menghadapi tiga ketidaksesuaian sekaligus: kurikulum yang belum sejalan dengan kebutuhan industri, pilihan jurusan yang tidak selalu berujung pada karier relevan, serta bakat unik peserta didik yang belum teridentifikasi secara sistematis. “Persoalan utama bukan sekadar kekurangan sumber daya manusia, tetapi kekurangan talenta yang tepat untuk menjawab kebutuhan zaman,” tegasnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/6/2026).

Lampung Hadapi Talenta Outflow dan Partisipasi Kuliah Rendah

Yusuf menyoroti kondisi spesifik Lampung yang dinilai strategis namun rapuh. Sebagai pintu gerbang Sumatera dengan populasi lebih dari sembilan juta jiwa, provinsi ini justru mengalami talent outflow—anak-anak terbaiknya memilih sekolah atau bekerja di luar daerah dan tak kembali membangun kampung halaman.

Data yang dipaparkan UBL menunjukkan angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Lampung baru mencapai 24,38 persen, jauh di bawah target nasional sebesar 32,85 persen. “Pendidikan tinggi harus mampu menjawab pertanyaan besar anak muda: siapa dirinya, ingin menjadi apa, dan mengapa pendidikan penting bagi masa depannya,” kata Yusuf.

Empat Tahapan Ekosistem Pencocokan Talenta

Untuk menjawab persoalan itu, UBL merancang ekosistem yang terdiri dari empat tahapan. Pertama, Lampung Talent Mapping, yakni pemetaan bakat, karakter, dan minat karier siswa SMA/SMK sejak kelas X. Kedua, Career Discovery Program bagi siswa kelas XI untuk menyusun peta jalan karier personal.

Tahap ketiga adalah Talent Matching Platform, sebuah platform digital provinsi yang memberikan rekomendasi jurusan, sertifikasi, magang, hingga profesi masa depan berbasis data talenta. Keempat, pembentukan Lampung Talent Ecosystem yang melibatkan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, industri, dan dunia usaha.

Peran Pemerintah dan Industri dalam Ekosistem Ini

Dalam skema yang diusulkan, pemerintah daerah berperan sebagai orkestrator kebijakan. Sekolah menjadi pusat penemuan talenta, sementara perguruan tinggi bertindak sebagai akselerator pengembangan. Industri dan dunia usaha ditempatkan sebagai mitra yang menentukan kebutuhan kompetensi riil di lapangan.

Yusuf menambahkan, perubahan paradigma ini mendesak dilakukan agar Lampung tak hanya menjadi daerah pengirim tenaga kerja, tetapi mampu membangun generasi unggul yang berkontribusi bagi pencapaian target Indonesia Emas 2045. “Banyak anak berhasil lulus, tetapi belum berhasil menemukan dirinya. Inilah akar persoalan yang harus kita jawab bersama,” ujarnya.

Bagikan
Sumber: lampung.idntimes.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks