BANDAR LAMPUNG — Fenomena perburuan kursi di sekolah favorit kembali terulang di Lampung. Data Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Unggul Provinsi Lampung menunjukkan jumlah pendaftar melonjak drastis. Pada tahun ajaran 2025/2026, total peminat tercatat 14.215 orang. Kini, dalam periode 2–5 Juni 2026, angka itu meroket menjadi 34.403 berkas.
Kenaikan jumlah peserta terverifikasi mencapai 10.265 orang dibanding tahun lalu. Namun, penambahan daya tampung hanya 3.342 kursi—dari 9.042 menjadi 12.384 kursi. Ketimpangan ini membuat persaingan masuk ke sekolah unggulan semakin sempit.
Pusat Peminat Masih di Bandar Lampung
Kota Bandar Lampung kembali menjadi episentrum persaingan. SMAN 5 Bandar Lampung menerima 2.875 berkas, dengan 1.498 peserta terverifikasi untuk memperebutkan 360 kursi. SMAN 9 Bandar Lampung tak kalah ketat: 2.245 berkas masuk, 1.294 terverifikasi, daya tampung 396 siswa.
SMAN 2 Bandar Lampung mencatat 1.964 berkas dengan 1.255 peserta terverifikasi untuk 396 kursi. Sementara SMAN 14 Bandar Lampung menerima 1.679 berkas (951 terverifikasi), dan SMAN 10 Bandar Lampung mencatat 1.291 berkas dengan 960 peserta terverifikasi. Sekolah-sekolah ini juga menjadi favorit pada tahun sebelumnya.
Pengamat: Lonjakan Pendaftar Sinyal Positif, Tapi Ada Celah Kesenjangan
Pengamat pendidikan sekaligus Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Mutiara Ayu, S.Pd., M.Pd, menilai tingginya minat masyarakat menunjukkan kepercayaan besar terhadap sekolah yang dianggap mampu memberikan lingkungan belajar dan prestasi akademik kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa fenomena ini juga merefleksikan kesenjangan mutu antar sekolah.
“Ketika sebagian sekolah menerima pendaftar jauh melebihi daya tampung, sementara sekolah lain belum menjadi pilihan utama masyarakat, maka diperlukan upaya pemerataan mutu pendidikan di seluruh satuan pendidikan,” ujarnya, Senin (8/06/26).
Mutiara menambahkan, tantangan pemerintah daerah ke depan bukan hanya menambah daya tampung di sekolah unggulan. “Memperkuat kualitas pembelajaran, sarana dan prasarana pendidikan, serta sumber daya manusia di seluruh SMA,” katanya. Menurutnya, keberhasilan sistem pendidikan tidak diukur dari ketatnya persaingan masuk sekolah unggulan, melainkan dari sejauh mana seluruh sekolah mampu memberikan layanan bermutu dan merata.
Sistem Baru Beri Ruang Lebih pada Prestasi Akademik
Perubahan sistem penerimaan peserta didik yang kini memberi porsi lebih besar pada prestasi akademik turut mendorong budaya belajar. Mutiara menilai kebijakan ini positif, namun implementasinya perlu dievaluasi secara berkala agar tetap menjamin keadilan dan aksesibilitas bagi peserta didik dari berbagai latar belakang.
“Setiap sekolah seharusnya dapat menjadi tempat yang mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal,” ujarnya.