LAMPUNG — Antusiasme mahasiswa ITERA terhadap perkembangan teknologi digital terbilang tinggi. Hal ini terlihat dari padatnya sesi workshop dan diskusi yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari saat Web3 University Tour 2026 digelar di kampus setempat.
Program ini merupakan rangkaian ketiga setelah Yogyakarta dan Bandung. Ke depan, kegiatan serupa akan berlanjut ke Bali, Surabaya, Malang, Samarinda, dan Manado.
Bekal Karier di Era Ekonomi Digital
Head of Community Coinvestasi, Niki Sekar Dewayani, menegaskan bahwa literasi digital bukan lagi sekadar pilihan. “Semakin cepat mahasiswa memahami perkembangan teknologi, semakin besar peluang mereka untuk beradaptasi dan berkontribusi dalam ekonomi digital yang terus berkembang,” ujarnya.
Niki mendorong generasi muda untuk melihat transformasi ini sebagai peluang membangun kompetensi, bukan sekadar tren sesaat. Hal senada disampaikan perwakilan Binance Academy, Serli Roisca. Ia menekankan pentingnya membangun portofolio dan keterampilan teknis sejak bangku kuliah agar memiliki nilai tambah saat memasuki dunia profesional.
Workshop Smart Contract hingga DeFi
Para peserta tidak hanya mendengarkan materi. Mereka juga mengikuti workshop interaktif yang memperkenalkan cara kerja smart contract, penggunaan dompet digital, hingga ekosistem decentralized finance (DeFi). Sesi ini dipandu dua pengembang dari DevWeb3 Jogja, Yeheskiel Yunus Tame dan Singgih Brilian Tara.
Keduanya memiliki rekam jejak di kancah internasional. Yeheskiel pernah meraih juara pertama Mantle Global Hackathon 2025 kategori GameFi dan Synthesis Agentic AI Hackathon. Sementara Singgih merupakan juara Pharos Hackathon dan U2U Hackathon.
Kompetisi Ide: NexusVault dan DePIN Air Bersih
Menjelang akhir acara, mahasiswa diberi kesempatan mempresentasikan inovasi mereka melalui sesi Cumlaude Web3. Zhico Apta Pradita keluar sebagai juara pertama lewat gagasan NexusVault. Posisi kedua diraih Stevanus Cahya Anggara dengan konsep DePIN Air Bersih.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebutuhan akan talenta digital tidak lagi terbatas pada kemampuan menggunakan teknologi. Pemahaman terhadap inovasi seperti kecerdasan buatan, blockchain, dan sistem digital terdesentralisasi menjadi kunci daya saing di masa depan.