BANDARLAMPUNG — Peresmian warung tersebut berubah menjadi ruang temu lintas generasi. Sejumlah musisi gaek Lampung, pelaku usaha, hingga pejabat Pemerintah Provinsi Lampung tampak hadir, bukan sekadar untuk gunting pita, melainkan merayakan keputusan berani seorang kawan lama yang memilih jalan baru di usia yang tak lagi muda.
Mengapa Hary Kohar Beralih ke Bisnis Kuliner?
Bagi publik Lampung, nama Hary Kohar identik dengan musik cadas lokal. Namun, keputusannya menyeberang ke bisnis kuliner komersial bukan tanpa kalkulasi. Ia melihat celah pasar pada kuliner berbasis ikan premium yang selama ini identik dengan harga mahal.
"Kami ingin mendobrak stigma bahwa makanan berbahan ikan berkualitas seperti salmon itu harus selalu mahal. Di sini, semua kalangan bisa mengaksesnya tanpa harus merobek kantong terlalu dalam," ujar Hary di sela-sela peresmian.
Menu Hibrida dan Siasat Harga Paket
Warung ini mengandalkan menu hibrida yang memadukan tradisi lokal dan rasa internasional. Pindang Salmon dan Tomyam Salmon bersanding dengan kuliner tradisional Sumatra seperti Pepes Gurame dan Pindang Baung.
Untuk menyasar pasar keluarga dan komunitas, Hary menyusun strategi harga paket. Paket Pindang Salmon dibanderol Rp95 ribu secara komunal, sementara Paket Pindang Baung seharga Rp75 ribu. Pilihan menu ikan ini, menurut Hary, juga didasari atas kesadaran pemenuhan gizi masyarakat yang meningkat pascapandemi.
Panggung Live Music: Menjual Harmoni, Bukan Sekadar Kalori
Satu hal yang membedakan kedai ini dengan rumah makan pindang kebanyakan adalah hadirnya panggung live music. Hary tampaknya belum sepenuhnya bisa melepaskan DNA musiknya.
"Dulu saya menghibur orang lewat ketukan drum dan lengkingan gitar. Sekarang, mediumnya berganti lewat rasa. Prinsipnya sama: menciptakan ruang komunal yang hangat di mana orang bisa melupakan sejenak penatnya kota," kata Hary, filosofis.
Di tengah lesunya industri musik fisik dan bergesernya ruang kreatif, langkah Hary menuai apresiasi dari koleganya sesama musisi senior. Kedai ini diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga titik kumpul baru bagi komunitas kreatif di Bandarlampung.
Di Jalan Diponegoro, Hary Kohar mengirimkan pesan bahwa usia, genre musik, dan bidang usaha hanyalah deretan angka. Selebihnya adalah soal konsistensi untuk terus bertahan dan relevan dengan zaman.