BANDARLAMPUNG — Pertumbuhan ekonomi Lampung pada awal tahun 2026 menunjukkan tren penguatan yang konsisten. Berdasarkan data terbaru, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung atas dasar harga berlaku mencapai Rp132,36 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp73,44 triliun.
Capaian 5,58 persen ini menempatkan Lampung di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatra yang tercatat 5,13 persen. Meski demikian, angka tersebut masih berada sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada periode yang sama.
Panen Raya dan Konsumsi Lebaran Jadi Pendorong Utama
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan mencapai 9,89 persen (yoy). Akselerasi ini terjadi seiring dengan berlangsungnya puncak panen raya untuk komoditas tanaman pangan, khususnya padi dan jagung di berbagai sentra produksi.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga menunjukkan performa impresif dengan tumbuh 6,91 persen. Aktivitas perdagangan antardaerah meningkat signifikan, didorong oleh tingginya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Sektor lain seperti industri pengolahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan tetap terjaga di jalur positif. Masing-masing sektor tersebut tumbuh sebesar 3,28 persen, 4,96 persen, dan 6,11 persen, yang dipicu oleh mobilitas masyarakat dan keberlanjutan proyek strategis nasional.
Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Sektor Akomodasi
Implementasi program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak pengganda (multiplier effect) pada aktivitas ekonomi daerah. Sektor penyediaan akomodasi serta makan dan minum mencatatkan pertumbuhan paling tajam, yakni sebesar 12,43 persen (yoy).
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,54 persen, selaras dengan terjaganya optimisme masyarakat. Hal ini tercermin dari rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Lampung yang berada di level 121,71 atau masuk dalam kategori optimis.
Konsumsi pemerintah juga mengalami kenaikan drastis sebesar 13,84 persen. Kenaikan ini dialokasikan untuk mendukung stimulus program nasional, termasuk penguatan Koperasi Merah Putih di tingkat daerah.
Investasi Bangunan dan Kinerja Ekspor Tetap Solid
Kinerja investasi di Bumi Ruwa Jurai tetap kokoh dengan pertumbuhan 4,39 persen, terutama ditopang oleh pengerjaan fisik bangunan pada berbagai proyek strategis. Sementara itu, kinerja ekspor tumbuh tipis 0,75 persen melalui komoditas unggulan seperti bubur kayu (pulp), sisa industri makanan, dan bahan kimia organik.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Lampung sepanjang tahun 2026 akan bertahan pada kisaran 5,0 hingga 5,6 persen. Optimisme ini didasarkan pada kuatnya permintaan domestik serta rencana ekspansi usaha yang terus berlanjut sepanjang tahun.
Tiga Strategi Menjaga Momentum Pertumbuhan
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui tiga strategi utama. Fokus pertama adalah penguatan sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian serta pengendalian inflasi lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Strategi kedua menyasar peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas unggulan dan pengembangan UMKM berorientasi ekspor. Pemerintah juga mendorong realisasi proyek investasi potensial melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Terakhir, penguatan sinergi kebijakan antar-pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Lampung tetap inklusif dan berkelanjutan di tengah dinamika risiko global maupun nasional.