LAMPUNG TIMUR — Operasi pemadaman udara dilakukan melalui dua sortie water bombing menggunakan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L. Sementara di darat, pemadaman melibatkan unsur pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, dan masyarakat setempat.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut personel di lapangan dibagi menjadi empat tim. Pembagian itu mencakup pemantauan drone, pemadaman di rawa gambut, distribusi air dan pemasangan selang, serta pemadaman lanjutan di titik B.
Tim juga menyiapkan suplai air menuju titik D dengan menggelar selang penyalur sepanjang sekitar tiga kilometer. Kendala di lapangan cukup berat: vegetasi rapat dan kering, angin kencang, akses sulit, serta jarak sumber air sekitar 1,5 kilometer dari titik kebakaran.
Karakteristik lahan gambut menambah risiko. Api berpotensi bertahan di lapisan bawah tanah dan muncul kembali meski pemadaman sebelumnya sudah dilakukan.
"Upaya penanganan pemadaman menghadapi sejumlah kendala, antara lain vegetasi yang rapat dan kering, angin kencang, akses menuju lokasi yang sulit, serta jarak sumber air sekitar 1,5 kilometer dari titik kebakaran," kata Berton.
Operasi modifikasi cuaca (OMC) diterbangkan pada Jumat (23/10) memakai pesawat Cessna Caravan. Dua sortie penyemaian natrium klorida (NaCl) masing-masing 1.000 kilogram dilakukan di wilayah TNWK dan Kabupaten Lampung Barat.
Hasil pengamatan menunjukkan hujan ringan turun di kedua wilayah tersebut. BNPB bersama pemerintah daerah terus memenuhi kebutuhan operasional, mulai dari peralatan pemadaman, logistik personel, hingga dukungan air dan bahan bakar.
Pemantauan drone akan dilanjutkan untuk mengidentifikasi perkembangan titik api. Prioritas pemadaman udara maupun darat diarahkan ke titik B, titik D, dan kawasan rawa gambut.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau lokasi dari udara pada Sabtu (24/10). Pantauan visual masih menemukan titik api disertai asap tebal di sekitar kawasan TNWK.
"Tadi setelah saya tinjau dari udara, memang ada beberapa titik api yang perlu mendapatkan perhatian, kita sudah mengatur untuk Way Kambas ini ada pasukan darat yang dibagi berdasarkan daerah operasi supaya pemadamannya lebih efektif," ujar Kristomei.
Operasi lapangan melibatkan sekitar 350 personel gabungan. Mereka terdiri atas BPBD provinsi dan kabupaten/kota, pemadam kebakaran, TNI, Polri, tim satuan tugas darat TNWK, BNPB, BMKG, serta mitra terkait.
Kristomei menyebut selang sepanjang tiga kilometer yang sudah diuji cukup efektif. Luasan operasi pemadaman akan diperbanyak agar hasilnya lebih terukur.
"Kita lihat juga tadi sudah dicoba dengan cara menggunakan selang sepanjang 3 kilometer ini, ternyata hasilnya cukup efektif, nanti kita akan perbanyak lagi luasan operasi pemadamannya," jelasnya.
Pada Jumat (23/10), tim gabungan sebelumnya berhasil memadamkan area seluas sekitar 10,2 hektare. Angka itu merupakan estimasi berdasarkan pemantauan dan evaluasi di lapangan.