Puskesmas Pagerungan Besar Pantau Balita Stunting dari Rumah ke Rumah

Penulis: Surya Dinata  •  Selasa, 22 September 2026 | 09:07:01 WIB
Petugas Puskesmas Pagerungan Besar memantau tumbuh kembang balita stunting dari rumah ke rumah melalui program Tahan Banting.

LAMPUNG — Puskesmas Pagerungan Besar, Sumenep, menjalankan program "Tahan Banting" untuk memantau tumbuh kembang balita stunting langsung dari rumah ke rumah. Inovasi ini memastikan setiap anak mendapat pendampingan berkelanjutan, bukan sekadar menunggu kunjungan ke Posyandu. Berikut cara kerja dan harapan di baliknya.

Penanganan stunting di wilayah kepulauan memang tidak bisa hanya mengandalkan ruang pelayanan kesehatan. Keluarga di Pulau Pagerungan Besar membutuhkan pendekatan yang lebih dekat, terutama untuk memastikan tidak ada balita yang luput dari pemantauan.

Melalui program Tahan Banting — kependekan dari Pantau Tumbuh Kembang Balita Stunting — petugas kesehatan mendatangi rumah warga satu per satu. Mereka mengecek pertumbuhan anak sekaligus melihat langsung kondisi keluarga.

Mengapa Kunjungan Rumah Jadi Kunci

Bidan Koordinator Puskesmas Pagerungan Besar, Yuliani, menuturkan bahwa kunjungan rumah membuat pemantauan berjalan menyeluruh. Petugas tidak sekadar mengukur, tetapi juga memahami situasi keluarga yang memengaruhi asupan gizi dan pola pengasuhan anak.

"Kami melakukan pemantauan dari rumah ke rumah agar tumbuh kembang balita stunting bisa terus terpantau dengan baik. Jadi, bukan hanya menunggu mereka datang ke Puskesmas atau Posyandu," ujar Yuliani, Selasa (22/9/2026).

Dari kunjungan itu, petugas bisa memberi edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing balita. Orang tua diajak lebih aktif memperhatikan makanan, pola asuh, dan perkembangan anak sehari-hari.

Bukan Sekadar Angka di Buku Pengukuran

Yuliani menegaskan, pemantauan tumbuh kembang butuh keterlibatan tenaga kesehatan, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ketiganya saling melengkapi agar pendampingan tidak berhenti di satu kali kunjungan.

"Harapan kami, melalui Tahan Banting ini, setiap balita yang mengalami stunting bisa mendapatkan pemantauan dan pendampingan secara berkelanjutan, sehingga perkembangannya dapat diketahui dan ditindaklanjuti sejak dini," katanya.

Bagi Puskesmas Pagerungan Besar, program ini menjadi cara mendekatkan layanan kesehatan ke keluarga. Tujuannya sederhana: memastikan tidak ada balita stunting yang luput dari pemantauan.

"Sebab, tumbuh kembang seorang anak bukan hanya tentang angka pada hasil pengukuran. Di baliknya ada keluarga yang perlu didampingi, orang tua yang perlu dikuatkan, dan masa depan anak yang perlu dijaga sejak hari ini," tuturnya.

Kolaborasi Lintas Pihak yang Dibutuhkan

Kepala Puskesmas Pagerungan Besar, H. Salim, menambahkan bahwa penanganan stunting butuh pemantauan konsisten. Pelayanan yang hanya mengandalkan kedatangan keluarga ke fasilitas kesehatan dinilai tidak cukup.

"Dengan Tahan Banting, kami ingin memastikan balita yang membutuhkan perhatian mendapatkan pemantauan secara langsung. Kami juga ingin mengetahui kondisi keluarga, apa yang menjadi kendala, kemudian bersama-sama mencari langkah yang bisa dilakukan," ujarnya.

Salim menilai keterlibatan keluarga menentukan keberlanjutan program. Tenaga kesehatan tidak berhenti pada pengukuran, tetapi juga mendorong orang tua memahami pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak.

"Harapan kami, inovasi ini bisa memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan, keluarga dan masyarakat. Karena penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh Puskesmas sendiri, tetapi membutuhkan kepedulian dan keterlibatan semua pihak," pungkasnya.

Yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah

Bagi ibu yang memiliki balita, pemantauan rutin di Posyandu tetap penting. Catat berat dan tinggi badan anak setiap bulan, lalu bandingkan dengan grafik pertumbuhan di buku KIA.

Jika anak sulit makan atau berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut, segera konsultasikan ke bidan atau dokter. Pendampingan lebih awal membuat penanganan jauh lebih efektif.

Program Tahan Banting menunjukkan bahwa pemantauan tumbuh kembang adalah kerja bersama. Ibu, keluarga, dan petugas kesehatan perlu berjalan seiring agar setiap anak tumbuh optimal.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: mediapribumi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top