LAMPUNG — Rupiah berhasil membalikkan posisinya yang sempat melemah di awal sesi. Berdasarkan data pasar uang, mata uang Garuda dibuka di level Rp17.763 lalu sempat terkoreksi hingga Rp17.765 sebelum akhirnya berbalik menguat signifikan ke posisi penutupan sore hari.
Penguatan 95 poin ini cukup impresif jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.750. Dengan laju ini, rupiah kini berada pada momentum terbaiknya sejak Mei lalu, didukung oleh pelemahan dolar AS di pasar Eropa yang berlanjut setelah terkoreksi di sesi global.
Pelemahan dolar AS menjadi katalis utama pergerakan rupiah hari ini. Indeks dolar, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun ke level 99,20 dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 99,57. Ini merupakan koreksi dari level tertingginya dalam 2,5 minggu terakhir.
Menurut Analis Vibiz Research Center, tekanan terhadap dolar AS berasal dari dua arah. Pertama, penguatan yen Jepang yang menekan posisi dolar di pasar Asia. Kedua, pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang rilis Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan rilis Jumat ini. Data tenaga kerja tersebut akan menjadi acuan utama bagi The Fed dalam menentukan arah suku bunga ke depan.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup di zona hijau. Indeks menguat 72,115 poin atau 1,09% ke level 6.667,891 pada akhir sesi. Penguatan ini sejalan dengan rebound Wall Street yang berhasil bangkit dari koreksi tiga hari beruntun pada perdagangan semalam.
Meski bursa Asia umumnya bergerak mixed dan tensi geopolitik Timur Tengah masih memanas, investor domestik tampak memanfaatkan momen ini untuk melakukan akumulasi beli. Kondisi ini sekaligus memperkuat sentimen positif di pasar keuangan dalam negeri yang tengah menikmati arus masuk modal asing.
Melihat pola pergerakan yang ada, Analis Vibiz Research Center memperkirakan rupiah akan berkisar pada rentang Rp17.650 hingga Rp17.855 per dolar AS sepanjang pekan ini. Jika data NFP AS yang dirilis besok lebih lemah dari perkiraan, bukan tidak mungkin dolar akan semakin tertekan dan membuka peluang rupiah untuk menguat lebih jauh.
Kendati demikian, fluktuasi nilai tukar tetap perlu diwaspadai mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi. Investor disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS dan eskalasi geopolitik yang dapat memicu pembalikan arah secara tiba-tiba.