JAKARTA — Label "Made in China" yang selama puluhan tahun identik dengan mobil-mobilan plastik dan boneka murah di pasar tradisional, kini bertransformasi menjadi produk bernilai tambah tinggi. Pergeseran ini terlihat jelas di ajang Indonesia International Baby Products & Toys Expo (IBTE) 2026 yang baru saja digelar di JIExpo Kemayoran.
Jika pada awal 2000-an impor didominasi mainan beroda sederhana, kini deretan peserta asal Tiongkok justru memamerkan robot pendidikan, building blocks, hingga mainan interaktif bertenaga AI. Berdasarkan kajian Universitas Indonesia yang memakai data UN Comtrade dan BPS, perubahan ini mengikuti lini produksi industri mainan Tiongkok yang semakin kompleks.
Sejumlah perusahaan Tiongkok tampil dengan segmen yang berbeda dari biasanya. Dongguan BDS Technology Limited, misalnya, membawa produk robotika yang menggabungkan unsur permainan dengan pendidikan sains.
Di sisi lain, Guangdong No.1 Industrial Co., Ltd. lebih fokus pada produk berbasis kekayaan intelektual (IP), seperti ornamen boneka dan gantungan kunci (keychain). Sedangkan Guang Dong Jollybaby Products Co., Ltd. menawarkan mainan edukatif yang juga mengusung lisensi karakter tertentu.
Kategori yang paling menarik perhatian adalah kehadiran AI Interactive Toys yang dibawa oleh Dongguan Jiandudu Trading Co., Ltd. Produk jenis ini memungkinkan boneka merespons interaksi anak, sebuah lompatan besar dari mainan konvensional.
Tidak ketinggalan, Guangdong Xinlexin Education and Culture Co., Ltd. turut meramaikan pasar dengan produk building blocks yang selama ini didominasi merek asal Eropa. Kehadiran mereka menandakan persaingan di segmen konstruksi dan edukasi semakin ketat.
Data dari penyelenggara IBTE 2026 menunjukkan pameran ini menjadi barometer arah industri. Inovasi yang ditampilkan para peserta Tiongkok mengindikasikan bahwa mereka tidak lagi hanya mengandalkan produksi massal berbiaya murah.
Fokus utama kini bergeser pada tiga aspek: edukasi, desain, dan pengalaman bermain. Hal ini menjawab kebutuhan orang tua modern yang tidak sekadar mencari hiburan, tetapi juga nilai tumbuh kembang anak. Dengan strategi ini, produk Tiongkok diprediksi akan semakin sulit tergantikan di pasar domestik.