LAMPUNG — Fadli menjelaskan, tantangan terbesar dalam upaya preservasi ada pada lukisan yang dikerjakan di atas media karung atau bakor. Media alternatif ini digunakan Le Mayeur saat kanvas sulit didapat pada masa Perang Dunia II.
“Salah satu tantangannya adalah memudarnya warna-warna. Kalau kita lihat warna aslinya, ini sangat kuat sekali. Tapi ada juga warna-warna yang memudar, terutama yang medianya karung atau bakor,” ujar Fadli dalam keterangannya di Denpasar.
Tim Galeri Nasional nantinya akan menilai kondisi fisik setiap karya untuk menentukan metode penanganan yang tepat. Fokus utamanya menjaga keaslian karakter dan warna lukisan agar tidak terus mengalami penurunan kualitas.
Letak museum yang hanya beberapa puluh meter dari garis pantai Sanur menjadi faktor risiko tersendiri. Paparan udara laut yang mengandung garam dan kelembaban tinggi berpotensi mempercepat kerusakan pigmen warna pada lukisan.
Selain persoalan konservasi, Fadli juga menggarisbawahi rendahnya jumlah kunjungan ke museum yang menyimpan jejak hidup pelukis asal Belgia itu. Data pengelola mencatat, museum hanya dikunjungi sekitar 100 orang per bulan, dengan mayoritas wisatawan asing dari Eropa.
Menurut Fadli, promosi yang lebih agresif diperlukan agar publik Indonesia lebih mengenal Le Mayeur dan perjalanan hidupnya di Pulau Dewata. Ia menilai museum ini menyimpan nilai sejarah dan artistik yang tinggi, tetapi belum dikelola secara optimal dari sisi pemasaran.
Le Mayeur menetap di Bali sejak 1933 setelah menjelajahi berbagai negara. Di Sanur, ia bertemu Ni Nyoman Pollok, penari Legong yang kemudian menjadi istri sekaligus model utama dalam banyak lukisannya.
Rumah yang mereka bangun di pesisir Sanur itu kini berfungsi sebagai museum. Sebagian besar koleksinya menggambarkan perempuan Bali, kehidupan masyarakat, hingga lanskap pedesaan dengan corak impresionisme khas Le Mayeur.
Dalam kunjungan tersebut, Fadli didampingi pejabat Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, serta pengelola museum. Langkah konservasi ini diharapkan menjadi titik awal perbaikan tata kelola museum agar koleksi bersejarah tetap lestari dan lebih banyak dikunjungi publik.