LAMPUNG — Persaingan ponsel lipat di kelas premium kian memanas, dan Samsung mencoba menjawabnya lewat Galaxy Z Fold 8 Ultra. Perangkat ini datang sebagai saudara tertua dari Galaxy Z Fold 8, dengan positioning sebagai varian paling lengkap. Bedanya dengan model reguler memang tipis, tetapi yang menarik justru terletak pada keputusan desain yang diambil Samsung.
Samsung mempertahankan bahasa desain kotak yang diperkenalkan pada Galaxy Z Fold 7. Bedanya, kini ketebalan perangkat saat terbuka menyentuh 4,1 mm, berkurang 0,1 mm dari generasi sebelumnya. Angka ini memang kecil, tetapi tetap terasa lebih ramping di tangan.
Untuk mencapai ketipisan ini, Samsung menyematkan engsel anyar yang bekerja sama dengan material "flex titanium" di bawah layar internal. Hasilnya, struktur bodi terasa lebih kokoh. Bahkan, engselnya terasa lebih kencang dan presisi saat dibuka-tutup, memberikan sensasi yang memuaskan meski butuh tenaga ekstra untuk membukanya dengan satu tangan.
Salah satu nilai jual utama perangkat ini adalah bobotnya yang sangat ringan. Setelah beberapa waktu digunakan, kesan membawa ponsel lipat harian yang ringan kembali terasa. Ini kontras dengan kompetitor seperti Pixel 10 Pro Fold yang cenderung lebih berat dan bongsor.
Jika ada satu hal yang memicu perdebatan, itu adalah tonjolan kamera di bagian belakang. Di tengah desain bodi yang ramping, modul tiga lensa yang duduk di atas "pulau" material tambahan terasa janggal. Meski secara teknis wajar untuk menampung sensor besar, secara visual hal ini tetap menjadi kekurangan yang sulit diabaikan.
Terlepas dari tonjolan tersebut, kualitas material lain patut diacungi jempol. Bingkai samping, tombol fisik, hingga panel belakang bertekstur frosted terasa solid dan nyaman digenggam. Warna Violet Shadow yang diuji cenderung terlihat abu-abu gelap di sebagian besar kondisi pencahayaan—pilihan tepat bagi mereka yang menyukai tampilan netral dan kalem.
Salah satu keluhan terbesar dari jajaran Galaxy Z Fold 8 adalah absennya dukungan magnet bawaan untuk standar pengisian daya nirkabel Qi2. Sementara Google telah mengadopsi magnet internal pada Pixel 10 Pro Fold, Samsung belum melakukannya. Padahal, kehadiran magnet ini sangat berguna untuk memasang aksesori seperti ring holder atau dudukan mobil tanpa casing tambahan.
Ketiadaan magnet ini terasa janggal. Banyak pengguna yang menonton video di dapur atau menggunakan ponsel sebagai navigasi di mobil akan diuntungkan dengan fitur tersebut. Kabar baiknya, sebagian besar produsen casing sudah menyertakan magnet di produk mereka, sehingga pengguna tetap bisa memanfaatkan aksesori Qi2 dengan membeli pelindung tambahan. Namun, hal ini tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum dibereskan Samsung.
Dari sisi performa, tidak ada lompatan revolusioner. Perangkat ini terasa lebih responsif, tetapi itu lebih karena penyempurnaan software dan engsel yang lebih solid. Layar internalnya masih mempertahankan pendekatan yang sama seperti pendahulunya, dengan bezel tipis dan lipatan yang nyaris tidak terlihat.
Secara keseluruhan, Galaxy Z Fold 8 Ultra adalah ponsel lipat yang sangat mumpuni. Ia dibangun dengan presisi tinggi dan menawarkan pengalaman flagship yang utuh. Namun, dibandingkan dengan gebrakan desain pada Galaxy Z Fold 7, hadirnya perangkat ini terasa seperti langkah aman yang kurang greget.
Galaxy Z Fold 8 Ultra jelas bukan untuk semua orang. Jika Anda sudah memiliki Galaxy Z Fold 7, peningkatan yang ditawarkan mungkin tidak cukup signifikan untuk membenarkan biaya upgrade. Namun, bagi pengguna yang datang dari perangkat lipat generasi lebih tua atau ponsel konvensional, perangkat ini adalah paket lengkap dengan desain solid dan spesifikasi terbaik di kelasnya.
Di pasar Indonesia, ponsel lipat premium masih menjadi segmen niche. Dengan harga yang dipastikan tinggi, Galaxy Z Fold 8 Ultra akan bersaing ketat dengan pendahulunya sendiri dan kompetitor dari brand lain. Keputusan akhir kembali pada prioritas Anda: apakah mengutamakan spesifikasi maksimal atau mencari gebrakan desain yang benar-benar baru.