LAMPUNG — Hampir satu dekade setelah film animasi Moana pertama kali dirilis, Disney kembali menghadirkan kisah putri Polinesia ini dalam format live-action. Langkah ini langsung memicu perdebatan: apakah ini sekadar strategi meraup untung dari properti intelektual (IP) yang sudah terbukti sukses, ataukah ada nilai tambah yang layak dinikmati penonton?
Jujur saja, film ini sebenarnya tidak perlu dibuat. Alur ceritanya sama persis: Moana (Catherine Laga'aia) nekat melintasi karang demi menyelamatkan desanya dari kerusakan, lalu bertemu Maui (Dwayne Johnson) yang mencuri hati Te Fiti. Namun, meski terasa "tidak perlu", film ini justru menjadi salah satu remake live-action Disney yang paling menyenangkan untuk ditonton.
Ketakutan terbesar saya—mengingat kegagalan Aladdin versi Will Smith—adalah bahwa film ini akan jatuh ke dalam perangkap yang sama. Untungnya, kekhawatiran itu sirna begitu Catherine Laga'aia muncul di layar. Ini adalah debut layar lebar Laga'aia, dan aktingnya penuh energi. Ia berhasil menjadi lawan main yang sepadan bagi Dwayne Johnson yang karismatik.
Dwayne Johnson kembali memerankan Maui, dan ini adalah penampilan ketiganya sebagai karakter tersebut (setelah animasi dan serial). Meskipun rambut palsu panjangnya sempat diragukan banyak orang saat trailer pertama muncul, Johnson berhasil membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar wig. Ia membawa "dad energy" yang kuat, membuat Maui terasa lebih manusiawi, lebih flaw, dan lebih engaging dibandingkan versi animasinya.
Johnson sepertinya sangat memahami karakter ini. Ia sudah sering membawakan lagu You're Welcome di media sosialnya untuk para penggemar cilik. Melihatnya bernyanyi dan menari dengan tubuh kekar, tato, dan rambut panjang di film terasa seperti klimaks yang memuaskan. Sementara itu, Rena Owen sebagai nenek Tala juga memberikan kehangatan yang menyentuh di setiap adegannya.
Salah satu peningkatan signifikan ada pada aransemen musik. Semua lagu hits dari film 2016 direkam ulang dengan nuansa yang lebih organik dan alami. Hal ini masuk akal karena sutradara Thomas Kail (Hamilton) dan Lin-Manuel Miranda kembali berkolaborasi. Hasilnya, lagu-lagu yang sudah familiar terasa segar tanpa kehilangan esensi aslinya.
Dari segi visual, film live-action ini tidak sepenuhnya realistis. Masih banyak elemen CGI seperti lautan yang hidup, bajak laut kelapa yang aneh, dan monster lava Te K?. Namun, efek visual ini tidak mendominasi cerita. Sebaliknya, mereka justru memperluas dunia Moana dengan cara yang mengejutkan dan indah, membuat film ini terasa seperti sebuah enhancement dari versi animasinya, bukan sekadar pengganti.
Jika Anda adalah orang tua yang sudah bosan memutar Moana versi animasi setiap hari di rumah, film live-action ini adalah angin segar. Sama seperti yang dialami ayah dari seorang anak perempuan berusia 7 tahun dalam artikel sumber, film ini sukses menghibur tanpa membuat penonton dewasa merasa tersiksa.
Namun, jika Anda mencari cerita baru atau perubahan plot yang revolusioner, Anda mungkin akan kecewa. Film ini adalah tontonan keluarga yang solid, berkat penampilan memukau Catherine Laga'aia dan Dwayne Johnson. Bukan untuk menggantikan kenangan, tetapi untuk merayakannya dengan cara yang berbeda.