Pangdam II Sriwijaya Mayjen Kristomei Sianturi Diangkat sebagai Warga Adat Lampung, Dapat Gelar Raja Satria Negara

Penulis: Qodri Anwar  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 19:29:01 WIB
Mayor Jenderal Kristomei Sianturi resmi diangkat sebagai warga adat Lampung dengan gelar Raja Satria Negara.

KOTABUMI — Prosesi Angkon Muakhi berlangsung di Kelurahan Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Kristomei diangkat sebagai saudara adat oleh tokoh masyarakat Lampung Utara, Ansyori Sabak yang bergelar Suttan Rajo Putra Negara. Pengangkatan itu sekaligus menempatkan Kristomei sebagai warga adat Pungguk Lama, Kebumian Suttan Rajo Putra Negara, Suku Agung Kampung Pungguk Lama, Kecamatan Abung Timur.

Gelar Adat untuk Pangdam dan Istri

Dalam prosesi Megawo Adat (Khuruk), Kristomei memperoleh gelar Raja Satria Negara. Gelar ini akan disempurnakan melalui prosesi Menggawo Bumi (Turun Mandei) dengan juluk Pangeran Satria Negara. Sementara itu, istri Kristomei, Desi Asti Megasari, juga menerima gelar adat Ratu Ibu Pertiwi dan nantinya akan memperoleh juluk Pangeran Ratu Ibu Pertiwi pada prosesi Turun Mandei.

Bukan Sekadar Seremoni, Ada Tanggung Jawab Moral

Tokoh adat Pungguk Lama, Ibnu Hajar bergelar Suttan Guttei Sang Rateu, menegaskan bahwa Angkon Muakhi bukan sekadar seremoni. “Pengangkatan ini membawa konsekuensi tanggung jawab. Gelar adat bukan hanya penghormatan, tetapi juga amanah untuk menjaga persaudaraan dan marwah adat,” ujarnya.

Ansyori Sabak menjelaskan, pengangkatan Kristomei memiliki makna khusus karena Pangdam XXI/Radin Inten lahir dan besar di Lampung Utara meskipun berasal dari keturunan Batak. Melalui prosesi tersebut, Kristomei secara resmi diakui sebagai bagian dari masyarakat adat Lampung.

Ikatan Emosional dengan Lampung Utara

Dalam sambutannya, Kristomei mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Lampung Utara. “Air pertama yang saya minum adalah air Lampung Utara. Hari ini, ikatan batin itu mendapatkan pengakuan melalui adat. Saya bersyukur dan merasa terhormat menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung,” katanya.

Ia berharap hubungan persaudaraan yang terjalin melalui tradisi Angkon Muakhi dapat terus dipelihara sebagai warisan budaya yang memperkuat persatuan masyarakat.

Dukungan Pemkab dan Rangkaian Prosesi Lanjutan

Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, menilai Angkon Muakhi merupakan warisan budaya yang memiliki nilai strategis dalam menjaga persatuan dan keharmonisan masyarakat. Ia mengajak Kristomei Sianturi untuk terus menjalin hubungan dengan kampung halamannya sekaligus berkontribusi bagi pembangunan Lampung Utara.

Usai prosesi pengangkatan saudara, rangkaian adat dilanjutkan dengan Sewarei sebagai bentuk penguatan hubungan kekeluargaan. Pada kesempatan itu juga dicanangkan hubungan persaudaraan adat antara Pangeran Satria Negara dengan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal bergelar Suttan Tihang Negara, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, mantan Bupati Lampung Tengah Mustofa, serta Ketua BEM Universitas Lampung Aditiya Putra Bayu.

Rangkaian Angkon Muakhi akan berlanjut pada Sabtu (11/7/2026) melalui prosesi Turun Mandei di kawasan wisata Pasir Putih, Kabupaten Lampung Selatan. Prosesi tersebut menjadi penutup sekaligus penyempurna pengangkatan Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: tintainformasi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top