7 Tahapan Tradisi Pernikahan Adat Lampung yang Masih Dilestarikan Lengkap dengan Makna dan Prosesinya

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Jumat, 03 Juli 2026 | 15:33:31 WIB
Suasana tradisi Nyubuk sebagai tahap awal pernikahan adat Lampung di Desa Kenali.

Di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat, setiap akhir pekan antara Juni hingga September, suara tabuh gong dan kolintang hampir pasti terdengar dari rumah-rumah panggung. Bukan sekadar pesta, pernikahan adat Lampung adalah pertunjukan identitas yang melibatkan seluruh marga (klan). Prosesinya tidak bisa selesai dalam sehari; ada tahapan yang memakan waktu berminggu-minggu, bahkan melibatkan negosiasi alot antar keluarga.

Bagi warga lokal yang hendak menikah atau perantau yang pulang kampung, memahami alur adat ini adalah harga mati. Tidak hanya soal sah secara hukum negara, pernikahan adat Lampung adalah pengakuan sosial atas status penyimbang (pemimpin adat) di masa depan. Berikut tujuh tahapan yang masih dijalankan secara turun-temurun.

1. Nyubuk: Menjajaki Hati dan Keluarga

Ini adalah tahap paling awal, sering dilakukan diam-diam. Utusan keluarga pihak laki-laki, biasanya seorang punyimbang (tetua adat), mendatangi rumah perempuan untuk menyelidiki apakah sang gadis sudah memiliki ikatan atau tidak. Bedanya dengan lamaran biasa, nyubuk belum membawa seserahan. Ini murni misi intelijen adat.

Jika hasilnya positif, pihak laki-laki akan mengirimkan lagi utusan untuk ngelampong — memberi kode berupa sirih pinang lengkap. Keluarga perempuan yang menerima sirih itu artinya menyetujui proses dilanjutkan. Di Lampung Timur, proses ini bisa memakan waktu 1-2 minggu penuh negosiasi.

2. Setubui: Menentukan Mahar dan Uang Jujur

Berbeda dengan adat Jawa yang lebih simbolis, adat Lampung sangat konkret soal mahar. Setubui adalah musyawarah tertutup antara dua keluarga untuk menentukan uang jujur (mas kawin) dan sesikun (hantaran). Di Lampung Saibatin (pesisir), nominal uang jujur bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung status sosial marga.

Yang unik, uang ini bukan untuk dibelanjakan. Sebagian besar akan dikembalikan dalam bentuk barang seperti perhiasan emas atau tanah. Angka 22, 44, atau 88 sering muncul sebagai simbol keberuntungan. Prosesi ini biasanya digelar di sesat (balai adat) dengan saksi dari penyimbang setempat.

3. Ngejuk: Antarkan Hantaran, Jangan Sampai Jatuh

Ini puncak dari prosesi pra-nikah. Rombongan dari pihak laki-laki berjalan kaki atau menggunakan mobil hias membawa sesikun di atas talam (nampan besar). Isinya wajib: tepak (tempat sirih), kain tapis (kain tenun khas Lampung), seperangkat alat sholat, dan perlengkapan mandi.

Di Lampung Pepadun (pedalaman), jumlah sesikun harus ganjil: 7, 9, atau 11 macam. Pantangan terbesarnya? Barang bawaan tidak boleh jatuh atau tersandung. Jika ada yang jatuh, dianggap pertanda buruk dan harus diganti dengan seserahan baru. Warga di Sukadana, Lampung Timur, masih sangat ketat menjalankan pantangan ini.

4. Cakak Pepadun: Naik Takhta, Sah Jadi Penyimbang

Ini ritual yang paling sakral dan hanya berlaku di masyarakat Lampung Pepadun. Pengantin laki-laki harus cakak (naik ke atas) pepadun (singgasana adat) yang dihiasi kain tapis dan payung kirai. Prosesi ini menandakan bahwa ia resmi diakui sebagai penyimbang (pemimpin adat) dalam keluarganya.

Sebelum naik, pengantin diarak mengelilingi sesat sambil diiringi gending (tabuh tradisional). Di puncak ritual, ia akan memecahkan telur ayam kampung di dahi pengantin perempuan — simbol bahwa ia siap menafkahi. Di Lampung Barat, prosesi ini sering diiringi tari Sigeh Penguten yang dibawakan oleh gadis-gadis desa.

5. Ngebas: Membuka Jalan dengan Pedang

Di beberapa wilayah Lampung Saibatin, ada tradisi ngebas — pengantin laki-laki mengayunkan pedang atau keris ke arah kanan dan kiri saat memasuki pelaminan. Ini bukan sekadar atraksi. Secara filosofis, itu simbol bahwa ia siap melindungi keluarganya dari segala ancaman, baik fisik maupun non-fisik.

Di Kalianda, Lampung Selatan, pedang yang digunakan adalah pusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun. Jika tidak punya, bisa meminjam dari punyimbang marga. Prosesi ini biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit dan menjadi momen paling difoto oleh tamu undangan.

6. Tepung Tawar: Tolak Bala dan Doa

Setelah akad nikah selesai, kedua mempelai duduk bersanding. Tetua adat akan memercikkan air tepung tawar — campuran beras kuning, daun setawar, dan air bunga — ke telapak tangan mereka. Ini adalah ritual pembersihan diri dari energi negatif dan doa agar pernikahan langgeng.

Di Kota Bandar Lampung, tradisi ini kadang disederhanakan dengan cukup mengoleskan sedikit tepung di kening pengantin. Tapi di desa-desa seperti di Kecamatan Pringsewu, prosesi ini masih dilakukan dengan penuh tapis (kain tenun) yang dibentangkan di atas kepala kedua mempelai. Warga percaya, semakin banyak tapis yang digunakan, semakin kuat perlindungannya.

7. Cangget: Pesta Rakyat Semalam Suntuk

Puncak acara adalah cangget — pesta tari yang diikuti oleh seluruh warga desa. Berbeda dengan resepsi biasa, cangget punya aturan ketat. Penari harus memakai tapis dan siger (mahkota emas), dan gerakan tari tidak boleh sembarangan. Ada koreografi baku yang diwariskan secara lisan.

Di Lampung Utara, cangget bisa berlangsung dari pukul 21.00 hingga subuh. Laki-laki dan perempuan menari dalam lingkaran terpisah. Yang menarik, pengantin baru harus menjadi penari pertama. Jika mereka tidak ikut menari, dianggap tidak menghormati tamu. Biaya untuk menggelar cangget di Kampung Tegineneng, Pesawaran, bisa mencapai Rp 15-30 juta untuk sewa tapis, siger, dan kelompok musik gamelan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah tradisi pernikahan adat Lampung wajib dijalankan semua?
Tidak semua. Untuk masyarakat Lampung Pepadun, cakak pepadun adalah wajib jika ingin diakui sebagai penyimbang. Namun untuk warga yang tinggal di perkotaan seperti Bandar Lampung, banyak yang menyederhanakan cukup sampai ngejuk dan resepsi biasa. Keputusan ada di musyawarah keluarga.

Berapa biaya rata-rata pernikahan adat Lampung lengkap?
Bervariasi besar. Untuk paket sederhana di desa (tanpa cangget besar), biaya bisa Rp 50-100 juta. Jika lengkap dengan cakak pepadun dan cangget semalam suntuk, biaya bisa menembus Rp 200-500 juta. Sebagian besar biaya adalah untuk uang jujur dan sewa properti adat (tapis, siger, pepadun).

Apa perbedaan utama adat Lampung Saibatin dan Pepadun?
Saibatin (pesisir) lebih hierarkis dengan struktur kerajaan, prosesi lebih singkat dan fokus pada siger. Pepadun (pedalaman) lebih demokratis — setiap penyimbang punya hak suara — dan prosesinya lebih panjang karena melibatkan cakak pepadun yang bisa berlangsung 2-3 hari.

Apakah non-Lampung bisa menikah dengan adat Lampung?
Bisa, tapi harus melalui proses ngelampong dan setubui yang lebih panjang. Biasanya pihak laki-laki non-Lampung harus diangkat sebagai anak adat (ngangkat) oleh punyimbang setempat. Di Kecamatan Natar, Lampung Selatan, proses pengangkatan ini memakan biaya tambahan sekitar Rp 10-20 juta.

Di mana bisa melihat prosesi pernikahan adat Lampung secara langsung?
Bisa datang ke desa-desa adat di Lampung Barat (Kenali, Sukau), Lampung Timur (Sukadana), atau Pesawaran (Tegineneng). Musim pernikahan adat biasanya puncak di bulan Syawal (setelah Lebaran) dan antara Juli-September. Disarankan datang dengan pendamping lokal yang paham adat agar tidak melanggar etika.

Mempertahankan tradisi pernikahan adat Lampung bukan soal nostalgia, melainkan soal menjaga struktur sosial marga yang sudah berusia ratusan tahun. Setiap tapis yang dipakai, setiap siger yang dikenakan, adalah dokumen hidup yang menceritakan siapa kita dan dari mana kita berasal. Bagi warga Lampung, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga menyambung rantai penyimbang yang tidak boleh putus.

Reporter: Teguh Prasetyo
Back to top