LAMPUNG — Bermain di matchday pertama, Kamis (18/6), Portugal sebenarnya unggul lebih dulu lewat gol cepat Joao Neves. Namun keunggulan itu sirna setelah Yoane Wissa menyamakan skor menjelang turun minum. Dominasi penguasaan bola di babak kedua gagal dikonversi jadi gol tambahan.
Roberto Martinez buka suara soal kegagalan timnya mengamankan tiga poin. Ia mengakui pendekatan taktik sudah berjalan sesuai rencana, tapi semuanya buyar saat pemain kehilangan kendali emosi.
"Emosi berdampak negatif pada performa kami di babak kedua. Kami setelahnya berhenti mengambil risiko, berhenti mencari ruang, berhenti mencapai sepertiga akhir lapangan," ungkapnya dilansir dari ESPN.
Ia menegaskan persoalan ini lebih ke mental ketimbang skema permainan. "Ini lebih merupakan masalah emosi daripada soal taktik, tapi ya beginilah Piala Dunia," tambahnya.
Pelatih asal Spanyol itu tak mau larut dalam kekecewaan. Ia menekankan bahwa turnamen sekelas Piala Dunia selalu menyimpan kejutan, dan satu hasil imbang bukan akhir segalanya.
"Detail-detail kecil bisa jadi pembeda. Kami baru mainkan satu laga," ujarnya.
Martinez bahkan mencontohkan Argentina yang sempat kalah di laga perdana lalu jadi juara, serta Spanyol yang kesulitan di awal perjalanan 2010 namun akhirnya mengangkat trofi. "Kami akan mengevaluasi dan meningkatkan performa," tutupnya.
Hasil ini membuat Portugal belum aman di puncak klasemen Grup K. Dua laga tersisa di fase grup menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki posisi dan memastikan tiket ke babak selanjutnya. Fokus utama Martinez kini adalah memulihkan mental pemain agar tak terulang kembali di laga krusial berikutnya.