LAMPUNG — Tim asuhan Steve Clarke tidak hanya harus bersiap menghadapi kekuatan Maroko dan Brasil di Grup C. Faktor cuaca ekstrem menjadi musuh tambahan yang tidak bisa dianggap remeh. Pertandingan melawan Maroko di Boston Jumat (23/6) pukul 23:00 BST diprediksi bersuhu 27 derajat, sementara laga pamungkas melawan Brasil di Miami diperkirakan jauh lebih panas.
Skotlandia sudah terbang ke Fort Lauderdale sejak awal Juni untuk membiasakan diri dengan iklim Amerika Serikat. Para pemain menjalani latihan dengan tabir surya, es batu, dan jaket pendingin sebagai bagian dari rutinitas.
Basis latihan mereka di Charlotte, North Carolina—yang berada di antara Boston dan Miami—sudah mencatat suhu 30 derajat. Sebelum berangkat, beberapa pemain bahkan menggunakan ruang simulasi lingkungan ekstrem di University of the West of Scotland untuk meniru kondisi Florida.
Profesor Vish Unnithan, ahli fisiologi olahraga dari University of the West of Scotland, menekankan pentingnya pemulihan nutrisi. "Tingkat penggunaan karbohidrat yang tersimpan jauh lebih cepat saat berlatih di panas," jelasnya kepada BBC Scotland.
Tim nutrisi Skotlandia telah menyiapkan program individual untuk setiap pemain. Tingkat keringat yang berbeda membuat gel dan minuman isotonik disesuaikan secara personal, bukan seragam untuk seluruh skuad.
Maroko dan Brasil mungkin lebih terbiasa dengan iklim panas, tapi Skotlandia punya keunggulan lain. Dari starting XI di laga perdana grup, pemain Skotlandia rata-rata menempuh lebih sedikit pertandingan musim lalu dibanding lawan.
Hanya Scott McTominay, John McGinn, dan Lewis Ferguson yang mencapai 50 pertandingan (masing-masing 53). Sebaliknya, enam pemain Maroko dan tiga pemain Brasil sudah melewati angka yang sama. Total pertandingan starting XI Brasil musim lalu mencapai 475, sementara Skotlandia hanya 410.
Legenda Skotlandia, Graeme Souness, yang pernah memimpin timnas melawan Brasil di panasnya Sevilla pada Piala Dunia 1982, memberikan wejangan. "Masalahnya saat bermain di panas adalah jika kamu terus membuang bola, cepat atau lambat seseorang akan menghukummu," ujarnya.
Souness menyoroti performa Skotlandia di babak kedua melawan Haiti yang terlalu sering kehilangan penguasaan bola. "Jangan berikan bola pada mereka. Pemain bagus tidak melakukannya," tegasnya.
Skotlandia hanya menguasai 46 persen bola saat melawan Haiti, dan angka serupa mungkin akan terulang. Namun, menjaga penguasaan menjadi prioritas utama demi menghemat energi di tengah panas dan kelembapan.
Mantan striker Skotlandia, Stuart McCall, memprediksi Clarke akan mengorbankan Lawrence Shankland untuk menambah kekuatan lini tengah. "Saya bayangkan mereka akan mengeluarkan Shankland dan memasukkan gelandang tambahan," kata McCall.
Opsi seperti Ryan Christie atau Kenny McLean bisa dimainkan untuk duduk bersama Lewis Ferguson, sementara Scott McTominay didorong ke posisi nomor 10. Keputusan ini juga terkait kondisi fisik Ben Gannon-Doak yang harus ditarik keluar pada menit ke-75 melawan Haiti karena kram betis.
Seperti dikatakan Clarke sebelum turnamen, Piala Dunia kali ini akan memanfaatkan hampir seluruh dari 26 pemain dalam skuadnya.