LAMPUNG SELATAN — Lahan kosong di area Lapas Kelas IIA Kalianda kini berubah menjadi hamparan sawi hijau yang siap panen. Kalapas Kalianda bersama jajaran petugas dan warga binaan turun langsung memanen hasil budidaya pertanian tersebut pada Jumat (13/6). Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menghasilkan produk nyata yang bermanfaat bagi institusi.
Program pertanian ini dikelola sepenuhnya oleh warga binaan di bawah bimbingan petugas lapas. Mereka belajar teknik bercocok tanam mulai dari pengolahan lahan, penyemaian, perawatan, hingga panen. Hasil sawi yang dipanen tidak dijual, melainkan langsung disalurkan ke dapur lapas untuk diolah menjadi bahan makanan bagi seluruh warga binaan. Langkah ini secara langsung mengurangi ketergantungan lapas pada pasokan sayur dari luar.
Kalapas Kalianda menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian harus menghasilkan dampak yang terukur, bukan sekadar kegiatan rutin. “Pembinaan tidak boleh berhenti pada kegiatan semata. Harus ada hasil yang bisa dirasakan, baik oleh warga binaan maupun institusi. Melalui kegiatan pertanian ini, kami ingin membuktikan bahwa warga binaan mampu berkarya, produktif, dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan. Dari dibina menjadi berguna, itulah tujuan pembinaan yang sesungguhnya,” tegas Kalapas.
Selain memenuhi kebutuhan pangan internal, kegiatan ini membekali warga binaan dengan keterampilan bertani yang aplikatif. Keterampilan tersebut diharapkan menjadi modal mereka untuk mencari nafkah secara mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat. Etos kerja, disiplin, dan produktivitas yang ditanamkan selama program pembinaan menjadi nilai tambah yang tidak ternilai bagi masa depan mereka.
Program serupa direncanakan terus dikembangkan dengan menambah jenis tanaman lain. Lapas Kalianda berharap kegiatan ini dapat menjadi model pembinaan kemandirian bagi lapas lain di Provinsi Lampung. Dengan memanfaatkan lahan tidur di area pemasyarakatan, institusi ini membuktikan bahwa sekat tembok tidak menghalangi seseorang untuk tetap produktif dan berkontribusi pada ketahanan pangan daerah.